23 November 2007

Perjalanan membentuk gugus depan territorial

Apakah ada suatu system yang lebih baik selain system pendidikan kepramukaan sebagai wadah pembentukan karakter anak bangsa ?

Dimana lagi anak-anak bisa dilatih untuk bersosialisasi, bekerjasama, menjadi leader, peduli lingkungan, kreatif, berketrampilan multiple intelligence, tahu menjaga kehormatan dirinya dan tetap berpijak pada bumi Indonesia di mana mereka hidup, tumbuh dan berkembang selain di pramuka ?

Banyak contoh orang-orang 'berkarakter kuat', yang dapat dibilang lahir dari pendidikan kepramukaan.

Buat saya pribadi, Onno W Purbo (salah satu kakak saya) adalah salah satu ‘produk’ pendidikan kepramukaan yang menjadi salah satu sumber inspirasi saya untuk semangatnya berbuat sesuatu untuk lingkungan.
Nilai seseorang hanya ditentukan oleh manfaatnya pada umat, bukan pangkat, jabatan, kedudukan, kekuasaan, kepandaian, predikat, gelar, harta, kekayaan, atau strata sosial
adalah prinsip hidupnya.

Dan ini adalah cerita panjang perjalanan saya bersama suami menuju pembentukan suatu gugus depan territorial.

Kenangan pramuka di masa kecil dan remaja

Waktu remaja dulu, saya tertarik ikut kegiatan pramuka karena ingin punya banyak teman. Maka di usia penggalang, saya mengikuti jejak kakak-kakak saya yang aktif di gugus depan territorial 0722 – 0723 Diponegoro, Bandung, dan terus aktif sampai akhirnya gugusdepan ini terpaksa ‘bubar’ di tahun 1982.

Kegiatan ekskul saya sebenarnya sudah cukup banyak waktu itu, sejak SD sampai SMA saya sempat belajar piano, menari Bali, ballet, menjahit, melukis, bahasa inggris, dan softball.

Tapi pramuka tetap menjadi kegiatan favorit saya waktu itu. Karena ternyata bukan hanya menjadi punya banyak teman, tapi banyak hal yang saya peroleh dari kegiatan pramuka ini.
Alhamdulillah, saya mempunyai orangtua yang mendukung hobby dan kegiatan anak2nya.

Suami saya, dulu waktu kecil nya juga senang sekali ikut kegiatan pramuka. Bersama kakak-kakaknya, mereka juga aktif latihan pramuka di gugus depan 104 -105 ITB.
Berhasil menjahit tendanya sendiri di usia 8 tahun, dan sempat mendapat penghargaan sebagai siaga teladan di tahun 1974 sampai akhirnya berhenti latihan pramuka karena ikut orangtua pindah ke Jakarta, meninggalkan kesan mendalam tentang kegiatan pramuka di benak suami..

Memang tidak lama kami aktif dalam kepramukaan, tapi cukup dapat meninggalkan kesan yang mendalam dan kami sadar bahwa kegiatan pramuka berkontribusi membentuk karakter kami menjadi seperti sekarang ini.

Jadi ketika anak-anak kami masuk SD dan wajib memilih kegiatan ekskul di sekolahnya, kami mengarahkan anak kami untuk memilih kegiatan pramuka.
Tapi ternyata kegiatan pramuka di sekolahnya ini jauh sekali dengan gambaran bagaimana kegiatan pramuka yang sudah terpatri di benak kami selama ini.

Dulu, adalah suatu kebanggaan tersendiri kalau kita dilantik karena berhasil memenuhi syarat2 kecakapan. Dari seragam yang masih polos kemudian boleh memakai atribut rasanya bangga sekali.

Sekarang, pada latihan pertamanya anak-anak ternyata datang sudah harus berseragam lengkap, masuk ke dalam kelas, dan bernyanyi-nyanyi..”disini senang disana senang” dengan guru nya.

Wah .....
terjadilah dialog kami dengan guru pramuka nya spt ini :

“Kok anak-anak sudah berseragam lengkap ya, bu ?”
“Iya. Paling anak-anak juga untuk sementara aja di pramuka, nanti tahun depan juga pada milih kegiatan yang lain”

*gubrak*

Ngga sampai menunggu tahun depan, anak kami langsung pindah ekskul bulutangkis.
Prihatin…dan bingung…dimana anak-anak kami bisa ikut kegiatan pramuka beneran ??
Apakah kegiatan pramuka sudah tidak ada lagi ?
Pertanyaan2 seperti itu bermunculan di benak kami, sampai kami sempat datang ke kwartir nasional ingin mencari-cari info mengenai pramuka.

Membentuk komunitas remaja


Beberapa tahun kemudian, didorong oleh rasa keprihatinan melihat generasi muda terutama di lingkungan kami yang sulit berkembang, karena tidak memiliki wadah pembinaan yang memadai - kebanyakan mereka terseret pada arus kuat 3F (fun, fashion, dan food) yang lebih berorientasi pada fisik dan miskin nilai-nilai hati nurani - suami saya berinisiatif untuk mengaktifkan mereka dalam satu kegiatan.

Agustus 2006 adalah awal dari terbentuknya komunitas remaja di lingkungan perumahan kami. Mereka berkumpul di rumah kami untuk latihan mengisi panggung 17 Agustusan.
Karena ‘bahasa’ yang paling dekat dengan mereka adalah seni musik, dengan bahasa itulah mereka dicoba didekatkan.

Format nya waktu itu adalah ‘operet’ ( baca jurnalnya di : Potensi Tersembunyi )
Dimulai dari tidak saling mengenal di awal latihan sampai tidak mau pulang selesai latihan, kebersamaan yang kental ternyata meninggalkan kesan yang menyenangkan dan berhasil menyatukan hati mereka.

Menurut kami, membentuk komunitas adalah hal paling mendasar untuk bisa melakukan sesuatu. Dari kegiatan pertama itu, beberapa kali anak-anak remaja ini dengan mudah diajak untuk mengisi berbagai acara di lingkungan RT kami.

Membentuk gugus depan territorial

Keterlibatan kami dalam aktivitas remaja ini ternyata mendapat perhatian positif dari para tokoh masyarakat di lingkungan kami. Di awal tahun 2007 ketika suami saya mendapat amanah untuk membina remaja, belum terpikir untuk melakukan apa, sampai kemudian ada yang mengusulkan untuk membuat kegiatan Pramuka.

“Pramuka ?? “
Bagaimana caranya ? Apa mungkin sih kita bikin pramuka sendiri ?
Tapi memang kegiatan apa lagi yang paling baik untuk pembinaan dan pembentukan karakter anak Indonesia ?

Pada awalnya, saya betul-betul ngga kebayang harus berbuat apa waktu suami saya mengatakan ingin membuat kegiatan pramuka. Tapi kebetulan saya punya teman yang pekerjaannya adalah menjadi pembina pramuka di sekolah-sekolah. Jadi belum sampai menghubungi Kwartir Cabang Kota Depok , dari teman saya itulah kami mendapatkan seorang Pembina pramuka yang sudah memegang sertifikat Kursus Mahir Dasar ( KMD ).

Sesudah beliau berkomitmen membantu kami untuk membentuk dan menjalankan gudep territorial, beberapa kali kami sempat bertemu dan berdiskusi menyusun struktur organisasi, dan membentuk mabigus. Selain itu beliau juga meminjamkan buku kursus mahir dasar nya pada kami dan menyarankan suatu saat kami juga dapat mengikuti KMD,.

Setelah semua siap, akhirnya kami sepakat mulai menyebar proposal kegiatan kepada para orangtua dengan kegiatan awal Camping di Cibodas di awal Februari 2007. ( baca jurnalnya di : panicmodeon ). Waktu itu, dari 100 lembar proposal yang disebar, 12 yang kembali mendaftarkan anak-anaknya untuk ikut kegiatan pramuka, dan sebagian besar adalah remaja-remaja yang sudah seringkali ikut terlibat dengan kegiatan kami.

Kendala yang dihadapi

Dalam perjalanan awalnya, selain perjuangan mengubah image masyarakat tentang kegiatan kepramukaan, masalah yang kami hadapi ternyata justru adalah masalah Pembina ( baca jurnalnya di : Kode Kehormatan ), yang kemudian mendorong saya untuk mencari komunitas pramuka di internet demi mencari solusi untuk mengatasi permasalahan yang kami hadapi..

Alhamdulillah, kami mendapat respon yang sangat baik, dukungan, masukan dan solusi dari teman-teman pramuka di mailinglist pramuka.

Pada akhirnya memang kami memberanikan diri terjun sebagai Pembina sesuai saran teman-teman di milis pramuka. Dan selanjutnya, - thanks to the internet juga - ada teman-teman saya yang saya kenal - kemudian menjadi dekat - dari mailinglist Dunia Ibu Depok - dimana kebetulan saya yang menjadi ownernya - , terpanggil dan bersedia dengan ikhlas dan sukarela bergabung bersama-sama kami menjadi Pembina.

Kegiatan dan perkembangannya


Alhamdulillah, Allah memberi banyak kemudahan sampai kegiatan pramuka ini berjalan dan berkembang seperti sekarang ini. Belum lama ini, kami juga sudah bertemu dengan staf di Kwartir Cabang Kota Depok dan diberi bimbingan untuk proses pendaftaran gugus depan nya.

Di usianya yang 9 bulan, anggotanya yang awalnya hanya berjumlah 12 orang, sekarang sudah mencapai 30 lebih lengkap dari golongan siaga, penggalang sampai penegak ( meski belum bisa aktif karena kesibukan mereka di sekolah ), dan tidak hanya warga di perumahan kami, tapi juga dari perumahan-perumahan sekitar kami. Mereka semua bergabung dengan sukarela.

Lewat blog http://www.pramukakita.multiply.com/ kami juga membuka kesempatan siapa saja yang berminat untuk bergabung dengan kami. Dan meskipun memang pramuka kami ini bergerak di bawah yayasan masjid, bagi yang non muslim pun boleh bergabung di sini, karena ini adalah kegiatan pramuka yang berbasis Trisatya dan Dasa Dharma.

Selama 9 bulan ini kami terus berusaha mengisi kegiatan dengan program yang bervariasi. Termasuk juga mengisi dengan kegiatan yang ngetrend mengikuti perkembangan jaman, tapi masih dalam koridornya.

Kreatifitas tinggi memang sangat diperlukan untuk membuat kegiatan pramuka jadi kegiatan menarik bagi anak-anak dan remaja sekarang. Dan musik, sains dan teknologi informasi adalah bidang yang potensial dikembangkan disini.

Memang dari banyak hal yang diajarkan selain teknik kepramukaan, kegiatan yang paling diminati oleh mereka ternyata adalah musik dan team building.
Salah satu bentuk kegiatannya yang kami catat sangat menarik minat mereka adalah penampilan ensemble musik perkusi siaga, dan body percussion penggalang pada pentas 17 Agustus 2007 lalu.
Keduanya memerlukan kerjasama tim dan kedisiplinan yang tinggi untuk bisa ditampilkan dengan baik. Body percussion bahkan memerlukan kedisiplinan dalam baris berbaris.
Setiap anak dilahirkan "bersinar".Sinar itu dapat menjadi padam atau semakin bersinar tergantung dari apa yang dia alami dan pelajari.
Anak-anak Pramuka yang kami bina juga demikian, mereka semua bersinar, mereka semua memiliki potensi tersembunyi, ada yang pendiam tapi ternyata memiliki kemampuan analisis yang kuat, ada yang ceriwis tapi ternyata solidaritasnya sangat kuat, ada yang pemalu tapi ternyata punya banyak ide.


Dan mereka tidak dapat menunggu, mereka akan tumbuh menjadi dewasa dengan cepat tanpa kita sadari, dan pada waktunya nanti akan terjun ke masyarakat, dan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa.

Nah, seperti apa sih karakter pemimpin bangsa yang kita harapkan ?

06 November 2007

Meninggal asyik !

Salah satu hal yang diingat suami saya sewaktu kami ikut training ESQ adalah...
“Meninggal asyik !!”
Hehe..meninggal asyik ? Ya, instruktur kami mengatakan waktu itu bahwa meninggal berarti kita akan bertemu dengan Allah yang kita cintai. Jadi meninggal itu asyik kan ?

Tapi memang meninggal ngga mungkin jadi ‘asyik’ kalau kita ngga punya bekal amal yang cukup untuk bertemu dengan Allah.

Salah satu semangat yang ditularkan oleh suami saya adalah semangat untuk berbuat sesuatu untuk lingkungan, juga kepeduliannya yang tinggi pada generasi muda.

Kondisi Indonesia sekarang ini memang memprihatinkan, dari pelanggaran nilai-nilai yang ‘kecil’ spt melanggar lalu lintas, kurang peduli dengan lingkungan sekitar, buang sampah sembarangan, sampai korupsi dimana2.

Bagaimana pembentukan karakter anak2 generasi penerus bangsa ini kalau tidak ada teladan baik, bahkan mungkin orangtuanya sendiri tidak mampu mengajarkan nilai-nilai baik ?

Hal-hal seperti itulah yang mendorong kami untuk berbuat sesuatu.
Di tengah kesibukan suami yang manager K3 di sebuah perusahaan engineering consultant, dan saya yang mengajar piano di sekolah musik, kami berusaha meluangkan waktu untuk membentuk suatu gugus depan pramuka.

Kenapa pada akhirnya kami memilih Gerakan Pramuka sebagai wadah pengembangan diri generasi muda ?
Sebenarnya karena - menurut kami - gerakan pramuka itu sistemnya bagus dan kalau ‘nyawanya’ ada , dijalankan dengan benar maka kegiatan ini memang cocok banget sebagai wadah pembentukan karakter anak bangsa.

Coba saja lihat janji Trisatya nya yang diucapkan pada waktu pelantikan…

Demi kehormatanku, aku berjanji akan bersungguh-sungguh :
1. Menjalankan kewajiban terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan RI, dan mengamalkan pancasila
2. Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat
3. Menepati Dasadarma
Saya kok melihat masa depan Indonesia yang cerah seandainya generasi muda kita berjanji dengan bersungguh-sungguh seperti itu.

Belum lagi nilai-nilai dasadarma nya yang selalu dibaca setiap upacara pembukaan dan ditanamkan dalam setiap kegiatannya..

Pramuka itu :
1. Takwa kepada Tuhan YME
2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
3. Patriot yang sopan dan perwira
4. Patuh dan suka bermusyawarah
5. Rela menolong dan tabah
6. Rajin, trampil dan gembira
7. Hemat, cermat dan bersahaja
8. Disiplin, berani dan setia
9. Bertanggungjawab dan dapat dipercaya
10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan
Kebayang kan…seperti apa seharusnya outputnya..
mereka adalah calon2 pemimpin yang bertakwa, cinta alam, peduli pada sesama, trampil,…dst…

Pramuka memang bukan hanya sekedar baris berbaris..

Alhamdulillah, kami bertemu dengan teman-teman yang mempunyai visi yang sama. Mereka sukses dalam karir profesionalnya dan di tengah kesibukan masing-masing ( membagi waktu antara bekerja dan keluarga ) berkenan meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk bersama-sama membina generasi penerus bangsa seperti janji trisatya sewaktu penggalang dulu "mempersiapkan diri membangun masyarakat".

Kak Ita, kak Lilik dan kak Widodo di mata saya memang orang-orang hebat yang lahir dari pendidikan kepramukaan.


yang berseragam pramuka ( ki-ka ) :
kak Lilik, saya, kak Ita, kak Udi, dan kak Widodo
bersama teman-teman dari pathfinder

Alhamdulillah, kegiatan pramuka teritorial di perumahan kami yang berjalan sejak bulan Februari 2007 sudah berkembang dan dipublikasikan oleh beberapa media, seperti majalah tempo dan koran republika. Salah satunya bisa dibaca di Republika Online :

Sosok Lita Uditomo : Merintis pramuka di perumahan
dan Belia : Pramuka di Perumahan

Mudah2an bisa bermanfaat dan menginspirasi teman-teman yang sama-sama peduli dengan generasi muda untuk melakukan sesuatu untuk anak-anak kita.

Bahagia rasanya bila kita bisa berbuat sesuatu...

In his final message to the Scouts before his death in 1941, Baden-Powell wrote: "The real way to get happiness is by giving out happiness to other people. Try and leave this world a little better than you found it and when your turn comes to die, you can die happy in feeling that at any rate you have not wasted your time but have done your best.' (The Times)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...