26 July 2007

Tentang pengolahan sampah ( lagi )

Teman-teman yang baik, makasih banyak ya udah mampir di posting ku tentang pengolahan sampah rumah tangga.
Alhamdulillah, masih banyak teman yang peduli dengan lingkungan kita

Saya tulis di sini ya tanggapan untuk komentar teman-teman...

"mb, beli keranjang sakti Takakura dimana di karinda jg ya ? apa bisa keranjang biasa ya ? sekilas nampak spt keranjang pakaian kotor di rumah hehehe ..."(Lilik)

Iya, memang betul keranjang takakura itu sebenernya laundry basket/ keranjang kotor biasa..hehe..kebetulan memang aku belinya di Kebun Karinda sesudah pelatihan itu, supaya bisa langsung praktek sampai di rumah.

Tapi sebenernya untuk mengompos bisa pakai macam-macam wadah :
  • drum plastik, bagian bawahnya dilubangi 5 buah. Diletakkan di atas bata agar aliran udara bisa masuk. Diberi tutup dari bantalan sabut/sekam (dari jaring plastik) untuk menjaga kelembapan dan suhu pengomposan.
  • gentong/tempayan dari tanah liat ukuran 50 -100 ml. Bagian dasarnya dilubangi 5 buah. Diberi tutup bantalan sabut/sekam.
  • keranjang takakura : keranjang tempat cucian ( laundry basket ), bagian dasarnya dilubangi 6 buah, diberi alas bantalan sabut/sekam. Di dalamnya diberi lapisan kardus.
"sebetulnya di tempat penampungan sampah ada juga orang yang kerjanya memilah sampah. yang masih bisa didaur ulang, diambilin dan dijual dgn harga tertentu. itu jadi mata pencaharian mereka lho. tapi memang nggak seefektif kalo tiap rumah tanggal misahin sampah sendiri ya, krn kalo udah di TPS gitu pasti ada yg kelewat." (Yanti)

Bener banget. Dulu waktu kecil saya pernah ikut alm bapak jalan-jalan ke TPA. Ngga nyambung juga sih sebenernya kenapa bapak yang arsitek itu bisa 'main' nya sama pemulung sampah yang dulu disebut bapak Laskar Mandiri.

'Pekerjaan' pemulung sampah memang memilah sampah, terutama sampah-sampah non organik yang masih bisa didaur ulang ( botol plastik, gelas aqua dll ), kemudian dijual dan jadi penghasilan mereka..cuma masalahnya, mereka harus 'mengais-ngais' seperti ( maaf ) anjing di sana...hiks..kasian juga liatnya...

Jadi itulah tujuannya kita memilah sampah di tingkat rumah tangga.
Pertama, sampah organik ditahan di rumah, diolah jadi kompos, dikembalikan lagi ke bumi dan jadi bermanfaat.

Kedua, sampah non organik yang masih bisa didaur ulang bisa disedekahkan ke para pemulung sampah yg pastinya diterima dengan senang hati oleh mereka karena ngga usah bersusah payah mengais tempat sampah.

Ketiga, tinggal sampah non organik yang sulit didaur ulang ( plastik refill, styrofoam, baterai bekas, pampers ) yang 'terpaksa' dibuang. Ini bisa diperkecil lagi jumlahnya kalau kita bisa menguranginya. Misal beli detergent, sabun cuci, shampoo, minyak goreng dll 'curah' yang ngga perlu pakai plastik refill, atau balik lagi pakai popok kain untuk mengurangi limbah pampers..;)

Sampah organik yang tidak diolah dan dibuang bersama-sama sampah non organik ini yang sekarang ini menjadi masalah besar di Indonesia.

Padahal sebenarnya, kalau kita mau sedikit repot, sampah organik ini setelah diolah menjadi kompos dalam skala rumah tangga bisa dimanfaatkan sendiri untuk keindahan rumah kita karena memperbaiki struktur tanah dan membuat tanaman kita menjadi subur, sedangkan dalam skala RT/RW pengelolaannya bisa diserahkan pada petugas kebersihan dan hasilnya kalau dijual bisa jadi tambahan sumber penghasilan juga buat mereka.
Selain itu yang paling penting adalah kita melaksanakan amanah Allah untuk memelihara bumi.

"Iya Lit, pengelolaan sampah tuh emang penting. Aku disini paling repot urusan memilah sampah. Botol dari beling aja dipisah buangnya berdasarkan warna(putih, coklat, hijau). Sampah kertas juga khusus buangnya, juga bio (warna tempat sampahnya hijau), sedang sampah dedaunan biasanya aku olah sendiri jadi kompos, daripada harus bayar khusus lagi. Adalagi sampah bekas packing (kotak/plastik sampahnya warna kuning) seperti kotak bekas susu, botol kemasan plastik, kaleng..yg bakal di recycling, biasanya diambil 2 minggu sekali. Pertama-tama ribet juga urusan buang sampah ini krn harus di pilah2, tapi lama2 jadi biasa juga. Paling males klo mo buang sampah botol beling ..karena tempatnya khusus, nggak diambil didepan rumah." (Retno)

Wah, makasih banget sharingnya, Ret..
Memang idealnya begitu ya. Di beberapa perumahan di kota besar Indonesia rasanya sudah menjalankan sistem yang hampir mirip seperti itu. Sampah non organik diambil oleh pemulung yang 'berijin' setiap hari yang ditentukan. Cuma memang, suliiiiit banget mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia membuang sampah

"kalo mau kunjungan ke Kebun Karinda harus telp dulu kah? Trus boleh pribadi sama keluarga gak yah?"(Mama Rafa)

Iya, harus dengan perjanjian..
Pelatihan diadakan setiap hari Selasa, jam 9-11 dan Sabtu, jam 8-10.
Minimal 10 orang dan maksimal 40 orang ( jadi nanti kalau kelompok kita cuma 10 orang akan digabung dengan kelompok lain ).

Kunjungan ke Kebun Karinda boleh dengan kelompok atau keluarga, pada dasarnya semua orang boleh belajar di sana...tapi sebaiknya sih berkelompok, karena penjelasan untuk orang dewasa akan berbeda dengan penjelasan untuk anak-anak. Biasanya anak-anak datang dengan sekolahnya, kalo engga bisa bosen..( jadi humas mendadak deh ni..hehe )

Untuk info yang lebih jelas, hubungi Kebun Karinda di Bumi Karang Indah, Jl. Karang Asri II C2/28, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta, tlp :  (021) 75909167

12 July 2007

Pelatihan mengolah sampah rumah tangga

"Sebagai wakil Allah SWT di bumi, kita mendapat titipan memelihara apa yang ada di bumi. Kita diberi Allah SWT makanan, pakaian, rumah, semuanya dari hasil bumi. Lalu apakah pantas kita kembalikan sebagai sampah dan racun yang merusak bumi?"
Itu adalah tulisan pak Djamaludin Suryohadikusumo, mantan menteri Kehutanan RI yang sangat peduli lingkungan, dan di masa purna tugasnya masih melakukan pekerjaan sosial bersama-sama bu Niniek - istrinya - membuat Kebun Karinda di lingkungan rumahnya yang merupakan tempat pelatihan pengolahan sampah menjadi kompos skala rumah tangga.

Selama ini, jujur, saya masih menganut paham "Jangan buang sampah sembarangan !!"
Artinya, saya juga mengajarkan anak-anak untuk 'buanglah sampah di tempat sampah'.

Ternyata memang sekarang itu aja ngga cukup

Belakangan ini, saya memang sudah mulai sedikit-sedikit memisahkan sampah dapur (organik) dengan sampah plastik (anorganik). Tapi masih belum konsisten karena masih belum ngerti sesudah dipisahkan lalu mau diapain sampah organiknya.

Sebenernya sih, sudah lama juga saya pengen ikut pelatihan di kebun karinda, tapi kesempatan itu baru ada kemarin. Sesudah kebun TOGA ( tanaman obat keluarga ) mulai berjalan di lingkungan kami, kami pengurus arisan berpikir mungkin program berkebun ini bisa 'disambung' dengan program pengolahan sampah rumah tangga.

Dan beberapa waktu yang lalu, saya dapat kesempatan bicara di depan forum arisan ibu-ibu mengenai pengolahan sampah rumah tangga.

Pertanyaan pertama yang saya ajukan pada mereka adalah "Bagaimana cara ibu 'membuang' sampah ?"

Hampir 100% mengatakan "Buang segala macam sampah ke tempat sampah dalam rumah, masuk dalam plastik kresek, diiket, buang ke tempat sampah depan rumah, lalu diangkut deh oleh petugas kebersihan..."
Ok, lalu....dibawa ke mana sampah-sampah itu oleh petugas kebersihan di perumahan ?
Sebagian besar ibu masih bisa menjawab, dibawa ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS), tapi sesudah dari sana entah diangkut ke mana lagi oleh petugas Dinas Kebersihan Kota.

Yang jelas, sebagian besar kita yang tinggal di perumahan - termasuk saya - merasa sesudah sampah hilang dari pandangan mata kita, kita menganggap sudah menjaga kebersihan lingkungan.
Padahal sebenernya, sampah kita yang mungkin cuma 1 kantong plastik 'kresek', sampai di TPS bergabung dengan 'teman2nya' sesama kantong plastik 'kresek' di satu perumahan itu menjadi bukit 'kecil', bau, kotor, dan jadi sumber penyakit.

Belum selesai di sini, mereka semua ( kantong2 plastik kresek ) diangkut lagi dan berkumpul lagi dengan 'teman2nya' di Tempat Pembuangan Akhir ( TPA ) menjadi gunung 'besar' yang jelek, bau, kotor, beracun dan beratnya berton-ton! Dan di sana juga numpuk ngga bisa diapa-apain, karena semua bercampur baur...
Lalu muncullah berita, TPA di daerah sana longsor menimpa rumah2 penduduk, atau Bandung menjadi lautan sampah, dst. Belum lagi banjir, penyakit dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh sampah2 itu.
Kita cuma bisa prihatin dan mungkin yang ada dalam benak kita...aah, kan kita 'cuma' berkontribusi menyumbang 1 kantong plastik 'kresek' aja sehari kok. Bener ngga ? :p

Sesudah itu saya juga masih bertanya,"Apa ada ibu yang membakar sampahnya ?"

Alhamdulillah semua menjawab,"Wah, kalau dibakar kan polusi". Iya memang, selain polusi dan bisa 'dipentung' tetangga, juga bisa memperparah pemanasan global.
Dan mudah2an sih, ngga ada di antara teman-teman yang menganggap jalan dan sungai itu adalah 'tempat sampah raksasa'..hehehe...

Hmmm...rasanya kok ngga adil ya kalau kita sebagai manusia penghasil sampah cuma bisa menyalahkan Dinas Kebersihan kota kalau ngeliat sampah kota berserakan di mana-mana, dengan alasan "Kan kita sudah bayar uang kebersihan" selanjutnya kan jadi urusan pemerintah kota...

Lalu, apa sih yang bisa kita lakukan ?

Kita harus merubah mind set kita dari "buang sampah pada tempatnya" menjadi "jangan malas memilah sampah".  Mulai dari diri kita sendiri, dari rumah tangga kita sendiri aja dulu..

Saya juga sempet berpikir, duh, kayaknya kok susah ya mengolah sampah jadi kompos....gimana caranya yaaa ??
Alhamdulillah, kemarin saya dan keluarga bersama teman-teman kompleks perumahan tempat saya tinggal, bisa belajar mengolah sampah dan pembibitan tanaman di Kebun Karindanya Bapak Ibu Djamaludin yang terletak di daerah Lebak Bulus Jakarta Selatan.


Dan ternyata...bapak ibu Djamal bisa membuat pekerjaan yang tadinya ( di mata saya ) keliatannya susah dan sangat teoritis, jadi keliatan sederhana...dan bisa langsung dipraktekin di rumah, terutama karena blio juga menyediakan keranjang sakti tempat pengomposan, lengkap dengan petunjuk penggunaannya.


keranjang sakti Takakura

Ini sebagian ilmu yang bisa saya share di sini tentang bagaimana mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos.

Pertama, pilahkan sampah organik ( sampah dapur dan halaman ) dan sampah non organik. Komposisi terbesar dari sampah rumah tangga sekitar 70% sebenarnya adalah sampah organik. Dan ini bisa 'ditahan' di rumah, dan diolah menjadi kompos.
Jenis sampah organik yang bisa diolah menjadi kompos itu adalah :
  • sampah sayur baru
  • sisa sayur basi, tapi ini harus dicuci dulu, peras, lalu buang airnya
  • sisa nasi
  • sisa ikan, ayam, kulit telur
  • sampah buah ( anggur, kulit jeruk, apel dll ). Tapi tidak termasuk kulit buah yang keras seperti kulit salak.
Sampah organik yang tidak bisa diolah :
  • protein seperti daging, ikan, udang, juga lemak, santan, susu karena mengundang lalat sehingga tumbuh belatung
  • biji2 yang utuh atau keras seperti biji salak, asam, lengkeng, alpukat dan sejenisnya. Buah utuh yang tidak dimakan karena busuk dan berair seperti pepaya, melon, jeruk, anggur.
  • sisa sayur yang berkuah harus dibuang airnya, kalau bersantan harus dibilas air dan ditiriskan.
Kedua, semua sampah itu dicacah/dipotong kecil2/ digunting2 jadi kecil, trus masukin deh ke keranjang sakti Takakura, dan diaduk2 dengan kompos activator (kompos lama) . Setiap hari bisa dimasukin sampah baru. Untuk keluarga yang anggotanya sekitar 4-7 orang, keranjang ini akan penuh dalam waktu sekitar 2-4 bulan. Jadi kita bisa panen kompos sekitar 2-4 bulan kemudian. Dan kalau prosesnya benar, maka pengomposan ini sama sekali ngga menimbulkan bau busuk.
Dan istimewanya lagi, kompos yang dihasilkan ini bisa dipake kapan aja dan terserah berapa banyak untuk mupuk tanaman kita...
Udah deh, gitu aja...simpel kan

YA, kenapa kita ngga mulai mengubah kebiasaan 'membuang' sampah menjadi 'mengolah' ?
Ayo, siapa yang berminat bergabung dengan jutaan orang di seluruh dunia yang berusaha menjaga kebersihan dan kelestarian alam ?
Bersama pak Djamal di depan Kebun Karinda
sebagai kebun percontohan, penyuluhan, pelatihan,
termasuk juga pembibitan dan pengomposan.

Simak juga lanjutan diskusi tentang pengolahan sampah rumah tangga di sini

05 July 2007

Kemana aja sih ?

Judulnya ngga kuku banged...hehe...soalnya itu yang banyak ditanyain di SB ku sama temen2 yang baik hati menengokku selama aku 'semedi'.

Iya sih, abis sebulan semedi harusnya kan tambah sakti, tapi ini kok ya gitu-gitu aja.
Masih 'sok sibuk'...

Banyak banget yang aku catat sebenarnya...
Sebulan ini rizki baru ujian SD, budi bolak balik seleksi AFS, bimo ikut olimpiade biologi, aku dan mas Udi masih asik nyiapin camping pramuka

Rizki alhamdulillah udah lulus SD dengan cukup baik, udah diwisuda juga, sekarang statusnya udah pelajar SMP, dan akan mulai matrikulasi bahasa inggris tg. 9 Juli besok.

Bimo, naik ke kelas VIII, rangking 3, abis terima rapot terpilih ikut seleksi olimpiade biologi kota depok...wah, dia seneng bangeddd...ngga kaya mas Budi yang doyan Fisika, Bimo emang doyan banged Biologi.

Budi, naik ke kelas XI, rangking 1, dari mulai bulan April sebenernya udah mendaftar ikut program pertukaran pelajar (AFS) yang informasinya dia dapet dari tante Hanni. Dan so far berhasil lolos sampai seleksi ke-3 ( terakhir ) di tingkat chapter.
Pengumuman nya nanti bulan Agustus. Katanya dia tu pengeeen banged sekolah ke Jepang.

Nah, sekarang semuanya lagi liburrrr..
dan hari sabtu minggu kemaren kita udah camping sama temen-temen pramuka lagi...

Bimo dilantik jadi penggalang ramu waktu camping


Rizki juga dilantik jadi penggalang ramu

Sama temen-temen dari Path Finder yang sangat membantu di acara jurid malam

Pada liburan kemana nih ??

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...