12 July 2007

Pelatihan mengolah sampah rumah tangga

"Sebagai wakil Allah SWT di bumi, kita mendapat titipan memelihara apa yang ada di bumi. Kita diberi Allah SWT makanan, pakaian, rumah, semuanya dari hasil bumi. Lalu apakah pantas kita kembalikan sebagai sampah dan racun yang merusak bumi?"
Itu adalah tulisan pak Djamaludin Suryohadikusumo, mantan menteri Kehutanan RI yang sangat peduli lingkungan, dan di masa purna tugasnya masih melakukan pekerjaan sosial bersama-sama bu Niniek - istrinya - membuat Kebun Karinda di lingkungan rumahnya yang merupakan tempat pelatihan pengolahan sampah menjadi kompos skala rumah tangga.

Selama ini, jujur, saya masih menganut paham "Jangan buang sampah sembarangan !!"
Artinya, saya juga mengajarkan anak-anak untuk 'buanglah sampah di tempat sampah'.

Ternyata memang sekarang itu aja ngga cukup

Belakangan ini, saya memang sudah mulai sedikit-sedikit memisahkan sampah dapur (organik) dengan sampah plastik (anorganik). Tapi masih belum konsisten karena masih belum ngerti sesudah dipisahkan lalu mau diapain sampah organiknya.

Sebenernya sih, sudah lama juga saya pengen ikut pelatihan di kebun karinda, tapi kesempatan itu baru ada kemarin. Sesudah kebun TOGA ( tanaman obat keluarga ) mulai berjalan di lingkungan kami, kami pengurus arisan berpikir mungkin program berkebun ini bisa 'disambung' dengan program pengolahan sampah rumah tangga.

Dan beberapa waktu yang lalu, saya dapat kesempatan bicara di depan forum arisan ibu-ibu mengenai pengolahan sampah rumah tangga.

Pertanyaan pertama yang saya ajukan pada mereka adalah "Bagaimana cara ibu 'membuang' sampah ?"

Hampir 100% mengatakan "Buang segala macam sampah ke tempat sampah dalam rumah, masuk dalam plastik kresek, diiket, buang ke tempat sampah depan rumah, lalu diangkut deh oleh petugas kebersihan..."
Ok, lalu....dibawa ke mana sampah-sampah itu oleh petugas kebersihan di perumahan ?
Sebagian besar ibu masih bisa menjawab, dibawa ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS), tapi sesudah dari sana entah diangkut ke mana lagi oleh petugas Dinas Kebersihan Kota.

Yang jelas, sebagian besar kita yang tinggal di perumahan - termasuk saya - merasa sesudah sampah hilang dari pandangan mata kita, kita menganggap sudah menjaga kebersihan lingkungan.
Padahal sebenernya, sampah kita yang mungkin cuma 1 kantong plastik 'kresek', sampai di TPS bergabung dengan 'teman2nya' sesama kantong plastik 'kresek' di satu perumahan itu menjadi bukit 'kecil', bau, kotor, dan jadi sumber penyakit.

Belum selesai di sini, mereka semua ( kantong2 plastik kresek ) diangkut lagi dan berkumpul lagi dengan 'teman2nya' di Tempat Pembuangan Akhir ( TPA ) menjadi gunung 'besar' yang jelek, bau, kotor, beracun dan beratnya berton-ton! Dan di sana juga numpuk ngga bisa diapa-apain, karena semua bercampur baur...
Lalu muncullah berita, TPA di daerah sana longsor menimpa rumah2 penduduk, atau Bandung menjadi lautan sampah, dst. Belum lagi banjir, penyakit dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh sampah2 itu.
Kita cuma bisa prihatin dan mungkin yang ada dalam benak kita...aah, kan kita 'cuma' berkontribusi menyumbang 1 kantong plastik 'kresek' aja sehari kok. Bener ngga ? :p

Sesudah itu saya juga masih bertanya,"Apa ada ibu yang membakar sampahnya ?"

Alhamdulillah semua menjawab,"Wah, kalau dibakar kan polusi". Iya memang, selain polusi dan bisa 'dipentung' tetangga, juga bisa memperparah pemanasan global.
Dan mudah2an sih, ngga ada di antara teman-teman yang menganggap jalan dan sungai itu adalah 'tempat sampah raksasa'..hehehe...

Hmmm...rasanya kok ngga adil ya kalau kita sebagai manusia penghasil sampah cuma bisa menyalahkan Dinas Kebersihan kota kalau ngeliat sampah kota berserakan di mana-mana, dengan alasan "Kan kita sudah bayar uang kebersihan" selanjutnya kan jadi urusan pemerintah kota...

Lalu, apa sih yang bisa kita lakukan ?

Kita harus merubah mind set kita dari "buang sampah pada tempatnya" menjadi "jangan malas memilah sampah".  Mulai dari diri kita sendiri, dari rumah tangga kita sendiri aja dulu..

Saya juga sempet berpikir, duh, kayaknya kok susah ya mengolah sampah jadi kompos....gimana caranya yaaa ??
Alhamdulillah, kemarin saya dan keluarga bersama teman-teman kompleks perumahan tempat saya tinggal, bisa belajar mengolah sampah dan pembibitan tanaman di Kebun Karindanya Bapak Ibu Djamaludin yang terletak di daerah Lebak Bulus Jakarta Selatan.


Dan ternyata...bapak ibu Djamal bisa membuat pekerjaan yang tadinya ( di mata saya ) keliatannya susah dan sangat teoritis, jadi keliatan sederhana...dan bisa langsung dipraktekin di rumah, terutama karena blio juga menyediakan keranjang sakti tempat pengomposan, lengkap dengan petunjuk penggunaannya.


keranjang sakti Takakura

Ini sebagian ilmu yang bisa saya share di sini tentang bagaimana mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos.

Pertama, pilahkan sampah organik ( sampah dapur dan halaman ) dan sampah non organik. Komposisi terbesar dari sampah rumah tangga sekitar 70% sebenarnya adalah sampah organik. Dan ini bisa 'ditahan' di rumah, dan diolah menjadi kompos.
Jenis sampah organik yang bisa diolah menjadi kompos itu adalah :
  • sampah sayur baru
  • sisa sayur basi, tapi ini harus dicuci dulu, peras, lalu buang airnya
  • sisa nasi
  • sisa ikan, ayam, kulit telur
  • sampah buah ( anggur, kulit jeruk, apel dll ). Tapi tidak termasuk kulit buah yang keras seperti kulit salak.
Sampah organik yang tidak bisa diolah :
  • protein seperti daging, ikan, udang, juga lemak, santan, susu karena mengundang lalat sehingga tumbuh belatung
  • biji2 yang utuh atau keras seperti biji salak, asam, lengkeng, alpukat dan sejenisnya. Buah utuh yang tidak dimakan karena busuk dan berair seperti pepaya, melon, jeruk, anggur.
  • sisa sayur yang berkuah harus dibuang airnya, kalau bersantan harus dibilas air dan ditiriskan.
Kedua, semua sampah itu dicacah/dipotong kecil2/ digunting2 jadi kecil, trus masukin deh ke keranjang sakti Takakura, dan diaduk2 dengan kompos activator (kompos lama) . Setiap hari bisa dimasukin sampah baru. Untuk keluarga yang anggotanya sekitar 4-7 orang, keranjang ini akan penuh dalam waktu sekitar 2-4 bulan. Jadi kita bisa panen kompos sekitar 2-4 bulan kemudian. Dan kalau prosesnya benar, maka pengomposan ini sama sekali ngga menimbulkan bau busuk.
Dan istimewanya lagi, kompos yang dihasilkan ini bisa dipake kapan aja dan terserah berapa banyak untuk mupuk tanaman kita...
Udah deh, gitu aja...simpel kan

YA, kenapa kita ngga mulai mengubah kebiasaan 'membuang' sampah menjadi 'mengolah' ?
Ayo, siapa yang berminat bergabung dengan jutaan orang di seluruh dunia yang berusaha menjaga kebersihan dan kelestarian alam ?
Bersama pak Djamal di depan Kebun Karinda
sebagai kebun percontohan, penyuluhan, pelatihan,
termasuk juga pembibitan dan pengomposan.

Simak juga lanjutan diskusi tentang pengolahan sampah rumah tangga di sini

18 comments:

  1. mb, beli keranjang sakti Takakura dimana di karinda jg ya ? apa bisa keranjang biasa ya ? sekilas nampak spt keranjang pakaian kotor di rumah hehehe ....

    dari dulu pengen deh misahin sampah organik dan non organik, tp ya itu ... cuma keinginan doang hik ...
    makanya mo mulai skr ahhh ... ;)

    btw, itu photonya ada eyang adam dan mb dina ya mb ? wahhh berasa sksd nih hehehe ....

    ReplyDelete
  2. jaga kebersihan jeng...
    disini juga sedang menggalakkan kerja bakti.. menyambut kemerdekaan kali ya...

    ReplyDelete
  3. iya, 'keranjang sakti'nya bisa didapat dimana?
    dulu jg sempat milah2 sampah, tapi karena gak tau mau diapain *lah diangkut tukang sampah juga nyampur lagi* akhirnya ya berhenti deh milah2 :(

    ReplyDelete
  4. wah.. makasih mba infonya...
    ntar tanya2x lebih detil boleh yah

    ReplyDelete
  5. subhanallah.. bermanfaat banget deh mba infonya... makasiy mba Lita..

    ReplyDelete
  6. Wah postingannya berguna banget niy mbak.....diprint trus disimpen, ntar kalo tekadnya ud bulat br dikerjain...nah lho.hehe.he..
    Pa kabar mbak Lita?? kangen deh...

    ReplyDelete
  7. waaaah, tulisannya bagus2 terutama postingan yang ini. kapan2 coba diterapin deh... hehe... btw salam kenal yah mbak lita...

    ReplyDelete
  8. Iya Lit, pengelolaan sampah tuh emang penting. Aku disini paling repot urusan memilah sampah. Botol dari beling aja dipisah buangnya berdasarkan warna(putih, coklat, hijau. Sampah kertas juga khusus buangnya, juga bio (warna tempat sampahnya hijau), sedang sampah dedaunan biasanya aku olah sendiri jadi kompos, daripada harus bayar khusus lagi. Adalagi sampah bekas packung (kotak/plastik sampahnya warna kuning)seperti kotak bekas susu, botol kemasan plastik, kaleng..yg bakal di recycling, biasanya diambil 2 minggu sekali. Pertama-tama ribet juga urusan buang sampah ini krn harus di pilah2, tapi lama2 jadi biasa juga. Paling males klo mo buang sampah botol beling ..karena tempatnya khusus, nggak diambil didepan rumah.

    ReplyDelete
  9. sebetulnya di tempat penampungan sampah ada juga orang yang kerjanya memilah sampah. yang masih bisa didaur ulang, diambilin dan dijual dgn harga tertentu. itu jadi mata pencaharian mereka lho. tapi memang nggak seefektif kalo tiap rumah tanggal misahin sampah sendiri ya, krn kalo udah di TPS gitu pasti ada yg kelewat.

    ReplyDelete
  10. mbak...kalo mau kunjungan ke Kebun Karinda harus telp dulu kah? Trus boleh pribadi sama keluarga gak yah?

    kalo boleh minta alamat lengkap da no telp nya dong mbak. Mayan dekat dr ciputat nih...pingin bawa rafa kesana

    ReplyDelete
  11. Wah hebat... sampah jadi berguna... saya akan pertimbangkan dirumah saya yang baru nanti ah... Tinggal sendiri jadi bisa dicoba, kalau sekarang ngontrak rame2 susah ngomongin anak2 yang cuek bebek itu...

    ReplyDelete
  12. Wah kapan ya aku bisa kayak mbak Lita, rajin banget urusan soal sampah. So far yang bisa aku lakuin baru misahin jenis2 sampah.
    Bravo untuk mbak Lita !

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah nemuin tulisan ini... saya juga sedang mempelajari bagaimana membuat kompos ini... dan memanfaatkannya. Siapa tau bisa usaha sampah hehehe...

    ReplyDelete
  14. Mba, mohon ijin utk mengcopy tulisan ini, krn banyak ibu-ibu yang pingin belajar memilah sampah di rumahnya. tks...

    ReplyDelete
  15. Halo, Saya

    Saya mengenal produk keranjang TAKAKURA, bor untuk biopori dan saya lihat hal ini mungkin berguna untuk anda.

    -------------------------------------------------------
    CV EPRISTARI - 021 93829785_081399136545

    Biopori bor tangan, Takakura-Komposter Pencacah Sampah Organik (Mini untuk rumah tangga 1-2 kg/jam, Kecil 15 kg/jam, Sedang 300kg/jam, Besar >600 kg/jam) dapat diperoleh di CV.EPRISTARI. Selain itu kami juga menjual produk daur ulang sampah non organik (mainan puzzle kertas, TAS-Dompet dari plastik bekas kemasan, dll.)

    Untuk informasi selengkapnya, silahkan ke http://www.indonetwork.co.id/CV_EPRISTARI/profile
    http://cv-epristari.blogspot.com/

    ReplyDelete
  16. weits top informasinya. trims lagi butuh jg soalnya mo bkin pelatihan pengolahan sampah bagi pemuda, trims

    http://masjoko.blogdetik.com/

    ReplyDelete
  17. mba, saya pengen tau tentang alamat n no telp rumah kebun karindra. saya berminat untuk menerapkan pengelolaan sampah sendiri. terutama untuk mendapatkan keranjang takakuranya..^-^

    tolong bantuannya,kirim ke email saya : ntie_ntie25@yahoo.com

    terima kasih mba, infonya sangat2 membantu...

    ReplyDelete
  18. terima kasih... bermanfaat banget deh mba infonya
    juga sedang belajar memanajemen sampah
    Mengelola sampah rumahan

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...