14 July 2010

Catatan Perjalanan : Susur pantai selatan ( selesai )

lanjutan dari catatan perjalanan : susur pantai selatan ( part 2 )

Pagi itu, Minggu 4 Juli 2010
pas menjelang adzan subuh, ayam jago yang tidur di bawah 'tempat tidur' kami di depan rumah pak nelayan ( aduh, saya kok sampai lupa namanya ) berkokok membangunkan kami. Suasana jadi hidup lagi karena kak Udi tiba2 memutuskan untuk latian berkokok, ditambah kak Edie yang membela kaum ayam jago ngga rela kalau ada kaumnya yang berkokok dengan suara fals ! ^_^

Bagas jadi ikut terbangun dan langsung semangat waktu dikabari kalau Jerman menang 4 - 0 lawan Argentina !!

Saya bergegas ke musholla membangunkan putri2 yang tidur di sana.

Kegiatan pagi sesudah shalat adalah bersih2 diri, membereskan sleeping bag, dan menyiapkan sarapan. Adik2 penggalang sudah membawa bekal untuk sarapan, ada yang membawa sebungkus indomie ( dan telur juga sebenernya ), yang ga mau repot cuma makan Pop Mie ( waduh, tenaganya cukup ngga ya kalau cuma makan Pop Mie ? )

Kak Udi membongkar backpacknya utk mengambil kompor camping yg menurut perasaan kak Udi sudah dimasukkan ke dalam backpacknya kemarin sebelum berangkat. Ah ternyataaa....itu cuma perasaan kak Udi saja - atau memang sudah dibawa dalam mimpinya - karena yang dibawa cuma tabung gas kecilnya...hihi...ya sudahlah, pakai 'kompor' spiritus aja...cuma Bagas & Yudi yang masak indomienya sendiri...sip !

Pemilik rumah yang baik hati itu dari pagi buta juga sudah menyiapkan pisang goreng untuk kami. 2 potong pisang goreng ditambah segelas teh manis hangat cukuplah buat energi saya melanjutkan perjalanan.

tim ayam jago berkokok dengan rumah nelayan di latar belakang
Sebelum melanjutkan perjalanan, kak Edie memberi tugas buat adik2 untuk mengeksplorasi jejak kaki binatang yang mampir di pantai, dan mereka harus menggambarnya di pasir pantai sesudah mengeksplorasi.

menggambar jejak binatang

Ada binatang apa saja ? Regu putri berhasil menemukan jejak kucing dan kepiting...tapi ada satu jejak yang ngga berhasil ditebak yang ternyataaa...jejak kambing...( halah..kambing mainnya ke laut juga ya ? )

siap berangkat

Jam 7.30 
perjalanan hari ini tidak seperti kemarin yang melewati tumpukan batu dan memanjat tebing karang di pantai perawan yang sepi. Kami hanya berjalan menyusuri pantai pasir di pantai wisata. Sudah tidak ada tantangan berarti sebenarnya.

Melewati penginapan yang berderet di sepanjang pantai, orang-orang yang berlibur dengan bermain pasir dan ombak, melewati para pendulang emas, dan pengumpul batu yang akan dijual sebagai penghias halaman rumah.

batas cakrawala

Sampai akhirnya pantainya mentok karena tebing karangnya terlalu berbahaya untuk dilewati tanpa peralatan. Kami terpaksa mengambil route ke atas dulu lewat jalan raya. Sempat berhenti sejenak sebelum sampai ke jalan raya, dan memandang pemandangan miris di kejauhan. Perusakan lingkungan oleh manusia membuat bukit itu tidak hijau lagi...:((

bukit yang sedikit demi sedikit menjadi tidak hijau lagi
setelah berjalan sedikit melewati jalan raya, kak Edie berbelok lagi ke arah pantai...kami terus berjalan menyusuri pantai pasir di bawah sinar matahari pagi yang cerah, di tengah hiruk pikuk dan keceriaan orang-orang yang menghabiskan waktu liburan di pantai, sampai akhirnya harus naik lagi sesudah sampai di teluk.
Mungkin inilah route terberat yang dijalani adik-adik..
Tanjakan dan turunan ekstrim di jalan raya membuat fisik dan mental menjadi sangat lelah. Saran kak Udi dan kak Edie untuk berjalan dengan mengatur nafas dan tidak banyak berhenti duduk beristirahat ternyata tidak  banyak memotivasi. Kekuatan itu sebenarnya bisa diperoleh dari energi positif yang kita berikan kepada pikiran kita.

tanjakan
turunan
Sekitar jam 10 pagi  
Hanya tinggal 3 km menjelang akhir route sesudah melewati tanjakan dan turunan ekstrim, menimbang kondisi peserta putri yang sudah tampak sangat kelelahan, kak Udi memutuskan menyewa angkutan untuk membawa kami kembali ke final destination.

Inilah the end of this adventure.
Alhamdulillah, untuk saya pribadi, banyak pelajaran berharga yang saya dapat dari perjalanan kali ini. Insya Allah menjadikan saya pribadi yang lebih tangguh ( maunya sih ). Mencoba memahami berbagai karakter manusia. Selalu berpikir positif dan senyum adalah energi yang bisa mempengaruhi pikiran kita dan orang-orang di sekitar kita untuk menjadi lebih kuat. Senyum, santai dan syukuri, insya allah membuat perjalanan ini menjadi pengalaman seru yang menyenangkan..
Great adventure ! thanks a lot to kak Edie

10 July 2010

Catatan Perjalanan : Susur Pantai Selatan ( part 2 )

Lanjutan dari catatan perjalanan : susur pantai selatan ( part 1 )

Setelah cek & ricek gembolan, mengencangkan tali-tali backpack, briefing dan berdoa, kami berangkat menuju pantai. Melewati jalan setapak perumahan penduduk yang semakin lama semakin jarang.  Menyusuri jalan pematang berlumpur yang bersebelahan dengan jurang di sebelah kanan, melewati sawah - sawah penduduk, kami terus melangkah dengan hati2.

jalan pematang berlumpur 

Cuaca sore itu cukup mendung, hujan turun rintik-rintik waktu akhirnya kami sampai di pantai setelah menempuh sekitar 1 jam perjalanan.

Pantainya masih perawan, sangat sepi, tidak ada tapak kaki selain tapak-tapak kami.  Sungguh pemandangan yang luarbiasa. Hanya sayangnya sepanjang perjalanan banyak sampah bekas bungkus snack bertebaran di jalan yang kami lalui :((

pantai perawan

Kami terus berjalan melewati  tumpukan batu2 yang seakan tidak ada habisnya..
Disinilah ketahanan fisik dan mental kita diuji. Dalam kondisi seperti ini karakter asli seseorang bisa jadi muncul tanpa disadari dan menimbulkan energi negatif yang mempengaruhi daya tahan orang-orang di sekelilingnya. Itulah sebabnya kak Edie hanya mengajukan 3 syarat sebelum kami melakukan perjalanan, yang oleh Kak Udi dibuat jadi 3 S : Senyum, Santai dan Syukuri ! ^_^

Lelah bisa jadi tidak terasa kalau kita bersyukur bisa menikmati hamparan luas alam yang indah mengagumkan tiada tara. Debur ombak di sisi kanan, hutan hijau dan air terjun kecil di sisi kiri yang tidak habis-habisnya.
Subhanallah…

jalan bebatuan

Di beberapa point, ketika kita tidak bisa melewati pantai karena ombak yang tinggi, kita juga harus mendaki tebing karang yang terjal dan licin. Tidak terlalu sulit juga sebenarnya, tidak perlu peralatan lain seperti tali, tapi tetap harus waspada dan  hati - hati jangan sampai terpeleset.

salah satu dari tebing karang yang harus dipanjat

 goa di tepi pantai

Hari sudah semakin gelap, lampu-lampu hotel dan resto di seberang teluk sudah mulai menyala. Sudah 2 jam lebih kami berjalan menyusuri bebatuan di pantai yang sepi di tengah hujan rintik-rintik, melewati goa yang gelap dengan baunya yang khas. Jalan sudah mulai tidak terlihat tanpa bantuan senter. Hmmmm....sepertinya kita agak terlambat berangkat sore tadi...

Sampai akhirnya, pas menjelang maghrib, kami melangkah ke salah satu rumah nelayan di pinggir pantai yang menerima kami dengan keramahan dan keterbukaannya mempersilakan kami beristirahat meluruskan kaki sekaligus menumpang menginap di depan rumah dan musholla nya.

Segelas kopi hangat yang airnya dimasak dengan kayu bakar dan sebungkus kacang di bawah cahaya lampu petromak dengan pemandangan shilouette kapal nelayan, kerlap kerlip lampu-lampu indah nun jauh di seberang laut menemani saya malam itu. Adik-adik menghabiskan bekal yang mereka bawa, kak Edie memesan semangkuk indomie telur pada pemilik rumah. Alhamdulillah.....

rumah nelayan di daerah PasirBaru, sekitar 7 km arah timur Cibareno

Malam itu, sesudah renungan malam menutup hari, semua segera beristirahat mengumpulkan tenaga untuk meneruskan perjalanan besok pagi.  Buat saya pribadi, perjalanan ini menjadi sebuah pengalaman menarik yang mengayakan batin, menyegarkan tubuh dan pikiran yang penat dengan rutinitas, sekaligus menambah wawasan akan kehidupan...

~ to be continue
waypoint desa di daerah Pasir Baru ini baru setengah perjalanan menuju final destination.
lanjutan kisahnya di sini 

Catatan Perjalanan : Susur Pantai Selatan ( part 1 )

Hari masih gelap di hari Sabtu, 3 Juli 2010 ketika saya dan kak Udi bersiap-siap untuk berangkat. Rencananya sesudah shalat subuh berjamaah di Masjid Al Mukhlishun, kami bersama adik-adik penggalang akan berangkat ke Pelabuhan Ratu untuk kegiatan susur pantai.

Rencana berangkat jam 5 pagi sempat tertunda karena ada beberapa masalah. Akhirnya jam 6 pagi kami ber-12 - Tara, Winny, Tania, Dhita, Dilla, Febi, Bagas, Yudi, Kak Udi, Kak Saivon, saya dan Pak Dimas - baru bisa berangkat dengan 2 kendaraan pribadi.

Kendaraan 1 langsung berangkat ke Pelabuhan Ratu, kendaraan 2 yang isinya kak Udi, saya, Bagas dan Yudi berangkat ke Bogor untuk menjemput Kak Edie, instruktur susur pantai kami :)

Perjalanan cukup lancar - meskipun agak sedikit macet di daerah Sukabumi - kami tiba di Pelabuhan Ratu sekitar pk. 10.30. Mengantarkan kak Edie ke tempat ibadah dulu yang ternyata lokasinya dekat sekali dengan Goa Lalay.

di depan goa lalay

Di Goa yang dulunya menjadi tempat wisata ini kondisinya sangat memprihatinkan. Ada beberapa sisa warung di depan. Dalam goa, hanya ada sejumlah kelelawar dan beberapa orang penduduk setempat yang sedang mengumpulkan kotorannya untuk dijadikan pupuk kompos berkualitas ekspor. Baunya sudah tercium jauh sebelum kami memasuki goa :)

Jam 12 siang, makan siang di Pelabuhan Ratu

Sesudah mampir shalat dzuhur, kami menemukan warung kecil dengan bangku2 menghadap ke laut untuk membuka perbekalan yang kami bawa dari rumah masing-masing.. nikmatnya...tanpa terasa jam sudah menunjukkan pk. 14.30 an waktu kami selesai makan. Harus bergegas berangkat kalau ngga mau kemalaman menyusur pantai dan air laut semakin pasang.

Kak Edie memberi pengarahan sebelum melakukan perjalanan menyusuri pantai.
Hal pertama yang disampaikan adalah 3 syarat untuk perjalanan susur pantai yaitu SENYUM, RILEKS dan ENJOY !!

Perlengkapan yang dibawa juga sebaiknya seringkas mungkin..
1 stel pakaian ganti, jaket/jas hujan, makanan secukupnya, senter, sarung/mukena, sikat gigi odol, obat nyamuk gosok, p3k, ditambah matras dan topi. Semua harus bisa masuk ke dalam backpack, dan dibungkus plastik, tidak ada yang dijinjing. HP dan Camera kalau ngga dibungkus plastik lebih baik ditinggal saja. Jangan lupa juga bawa air minum seperti pocari sweat yang cukup, dan minum sedikit demi sedikit saja di perjalanan. Yang penting juga, sebisa mungkin menggunakan backpack dan alas kaki yang kuat dan nyaman dipakai.

Jam 3 sore, siap berangkat

2 mobil kami titipkan di warung tempat kami makan siang itu, warung di Cisolok ini menjadi final destination kami nantinya. Kami mencarter angkutan umum seharga Rp. 100.000 untuk mengantar kami ke Cibareno ( sekitar 1/2 jam perjalanan dari final destination di Cisolok tadi, melewati batas propinsi Jabar ke Propinsi Banten ).  Waah...perjalanan Cisolok - Cibareno buat saya benar-benar uji nyali dunia fantasi !! Tanjakan dan turunan ekstrim menuntut keahlian dan kelincahan supir angkutan yang membawa kami ber-13 sekaligus dengan gembolannya .

 Tanjakan terakhir sebelum mendarat di terminal Cibareno

Kak Edie meminta supir menurunkan kami di terminal Cibareno yang sepi tidak ada tanda kehidupan terminal. Pemandangan yang sama seperti di Goa Lalay tadi. Hanya tersisa warung2 yang tutup karena sepinya terminal.


~ to be continue...
 bagaimanakah perjalanan susur pantainya ? bagaimana tantangannya ?
ikuti lanjutan kisahnya di sini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...