26 February 2008

Di balik karakter si Unyil

Beliau masih terhitung sepupu saya, meski umurnya terpaut belasan tahun dengan saya.
Anehnya, dalam profesinya sekarang, beliau yang dulu kuliah di jurusan Astronomi ITB, malah banyak dikelilingi model-model cantik..

Ya, berkat hobby fotografinya, beliau menjadi fotografer professional yang menghasilkan banyak karya indah mengagumkan, tengok saja galerinya di sini.

Bahkan seorang model Tiara Lestari sempat menulis PS. terimakasih khusus untuknya di blognya untuk foto2nya waktu tampil di acara Kick Andy di tahun 2006.

Beliaulah si Unyil itu...

Kami ‘bertemu’ kembali di dunia maya dalam suatu mailinglist sekitar tahun 2000.
Dalam salah satu emailnya beliau menulis 'sejarah' Si Unyil ini :
18 Februari 2000
Ibu saya punya adik laki laki yang saya panggil Pak Le.
Namanya Kurnain Soehardiman, sekarang beliau sudah almarhum.

Hobby Pak Le membuat film ...
Dari film "Kuntilanak", " Lampu Merah" sampai juga iklan obat memakai kartun.
Dulu Pak Le pernah tinggal dirumah saya ...
Itu yang namanya rol film besar besar, ada alat yang dapat melihat film satu satu dan dapat mengedit sambungan film dengan Acceton.
Jiwa filmnya bergulir terus sampai beliau membuat cerita boneka yang berseri di TVRI.

Saya diajak untuk dubbing suara karena, ”Judulnya adalah nama kamu ", kata beliau.
Memang waktu itu saya sering dipanggil si Kunyil, tetapi Pak Le menyingkatkan menjadi Unyil. Tetapi karena saya kuliah di Bandung jadi ya nggak bisa.

Memang tadinya cerita si Unyil adalah cerita dari keluarga sendiri, yang dibuat sedemikian rupa. Tokoh Mei Lan itu sebenarnya karena ada familiy yang masih kecil mukanya lucu seperti Mei Lan ...sekarang dia sudah jadi Dirut suatu perusahaan...hehehehe...itu yang saya tahu.

Diangkat dari cerita Sunda/Jawa dan keluarga maka cerita itupun beruntai sampai berpuluh puluh episode. Pengambilan gambar ditempat PFN di Kebon Nanas didepan Grasera dulu (Graseranya sekarang sudah tidak ada).
Saya melihat kegelapan ruangan studio yang besar itu ,takut rasanya .....
tetapi oleh karena ingin melihat boneka si Unyil ....ya...nggak apa apa.

Saya pernah diajak Pak Le ke rumahnya di Sukabumi .
Beliau menunjukan pada saya tempat membuat cerita ...
disebuah kamar dengan pandangan ke bagian depan ada balongnya ...disitu tenteram sekali.

Waktu itu saya senang membuat boneka sarung dari kain bekas ibu dan dijahit.
Tampaknya juga mengilhami beliau untuk menjadikan "Duit"

Banyak cerita menyinggung kehidupan sosial dan sekitarnya.
Sayang Oom Le/Pak Le sudah tiada ...maka berhentilah cerita unyil tersebut.

Cis Kacang buncis nyencle........

siapa yang akan melanjutkan kreasi beliau untuk anak anak?

saya ingat main musik di ITB pakai lagu ini
waktu itu mbak Lita masih TK

Julianto YC0DNW
Pak Le Kurnain Suhardiman memang sudah tiada, tetapi karyanya menjadi legenda di tanah air Indonesia. Siapa yang tidak kenal film boneka Si Unyil yang ditayangkan di TVRI tahun 1981 – 1993.

Dan pertanyaan mas Julianto terjawab, karena sejak tahun 2007 tokoh si Unyil ini mulai dihidupkan lagi menjadi Laptop si Unyil yang ditayangkan di Trans7 setiap hari Senin – Jumat, pk. 12.30 WIB.


Salah satu dari sedikit program TV asli Indonesia yang bagus buat pendidikan anak-anak.

"Sampai di sini dulu teman-teman...Merdeka !!"

19 February 2008

Bahaya kecanduan game online

Baca surat pembaca di Koran Tempo pagi ini, saya jadi inget posting saya belum lama ini mengenai hal yang sama.

Ternyata memang ada bahaya kecanduan lain selain narkoba.
Saya menuliskan lagi surat bapak Mohd Yusuf dari Tangerang ini, supaya bisa menjadi warning untuk para orangtua terutama yang kedua orangtuanya bekerja di luar rumah sampai malam, dan punya anak remaja cowok.

Saya prihatin melihat kenyataan yang sama di sekeliling saya .

Selain bolos sekolah berhari-hari mereka bahkan sampai berani berbohong pada orangtua dan mencuri !

Dan sama seperti pecandu narkoba, para gamers ini bisa jadi tahu apa yang mereka lakukan ini ( bolos sekolah, berbohong dan mencuri demi main game ) sebenarnya salah, tapi ngga bisa keluar dari 'jeratan' nya. Apalagi kalau lingkungan pergaulannya terus menerus menarik mereka kembali masuk ke sana.
Menurut saya, nge-game sebenernya fine2 aja, asalkan mampu mengendalikan diri dan tidak sampai menyebabkan perilaku 'buruk'.

Inilah surat pak Mohd. Yusuf...
"Pada saat ini, akses online game melalui internet sudah mewabah di setiap daerah. Hal ini membuat anak-anak remaja, mulai bangku sekolah menengah pertama sampai mahasiswa, kerasan duduk berjam-jam bermain online game atau melihat situs porno pada waktu belajar, baik pagi, sore, maupun malam hari, bahkan sampai 24 jam nonstop.

Melalui internet, mereka dapat mengakses online game untuk mencari lawan tanding dengan reward tertentu ( poin diperjualbelikan ) atau chatting dengan temannya di dunia maya tanpa dapat kita ketahui bagaimana perilaku dan sifat temannya tsb.

Kebetulan musibah ini menimpa anak laki-laki kami ( usia 14 tahun ) yang masih duduk di bangku SMP. Semula anak kami penurut dan terbuka kepada orangtua. Sekarang dia tidak terkontrol, sering tidak masuk sekolah, dan beberapa kali kabur dari rumah sampai berhari-hari.

Sudah seminggu anak kami pergi dari rumah hanya dengan berseragam sekolah tanpa memberitahu tempatnya berada. Kejadian ini pun tidak hanya menimpa kami, tapi juga dialami beberapa orangtua teman anak kami.

Kami sebagai orangtua sangat sedih dan prihatin atas musibah ini. Apa jadinya anak kami nanti ? Menurut guru konseling, permainan online game sudah menjadi candu dan tak ubahnya seperti orang kecanduan obat-obatan terlarang, lupa akan segala-galanya.

Saat pertamakali dia kabur dari rumah, kami telusuri seharian setiap rumah, toko dan warung internet yang ada di wilayah kami. Terlihat anak-anak berseragam sekolah di dalam ruko sedang asyik dengan permainan online game tsb. Setiap warnet selalu dipenuhi pecandu online game 10-15 anak. Bayangkan kalau ada 20 warnet, berarti ada 200 anak yang tidak belajar pada saat itu. Tentu sama halnya dengan daerah-daerah lain.

Wahai, bapak dan ibu yang berwenang di pemerintah pusat atau daerah, para pembuat keputusan, pengawas kebjakan, lembaga swadaya masyarakat, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan Anak, mohon dengan sangat agar warnet diseleksi serta ada pengawasan sebelum telanjur merusak generasi muda kita sebagai penerus bangsa tercinta ini. Terimakasih."

14 February 2008

Diliput Jurnal Nasional

Dikutip dari media harian : Jurnal Nasional

9 Pertanyaan untuk Lita Uditomo: Bangkitkan Pramuka di Perumahan

Rabu, 13 Feb 2008
PADA masa Orde Baru, rata-rata kepala sekolah dasar dan menengah mewajibkan siswa mereka mengikuti latihan pramuka. Bahkan, ada hari khusus berseragam Pramuka. Kebijakan ini menyalahi prinsip dasar Pramuka, yakni sukarela.
Kebijakan itu juga memaksa guru, yang belum tentu suka, menjadi pembina. Akibatnya, mereka menyampaikan materi secara massal di dalam kelas. Padahal, metode kepramukaan mengajarkan sistem beregu, tanda kecakapan, dan latihan di alam terbuka.



Lita Uditomo, seorang ibu rumah tangga, yang sehari-hari mengajar les piano, mencoba menghidupkan kembali gerakan pramuka di perumahan, bersama suami dan teman-temannya. Apa alasan alumni Jurusan Matematika, Institut Teknologi Bandung ini memilih pramuka untuk dihidupkan sebagai kegiatan di perumahannya?
Berikut petikannya wawancara Jurnal Nasional dengan adik pakar IT Onno W. Purbo ini, akhir bulan lalu di Depok.

1. Bisa diceritakan bagaimana terbentuknya gudep (gugus depan) pramuka di perumahan Griya Depok?

Awalnya memang tidak terpikir. Sejalan dengan tumbuhnya anak-anak kami menjadi remaja, kami merasakan sulitnya mereka mengembangkan diri, karena tidak adanya wadah yang memadai. Kami juga merasakan kuatnya arus negatif dari lingkungannya. Bagi kami, pintar secara akademis saja tanpa diimbangi dengan kemampuan bersosialisasi, berorganisasi, kepekaan terhadap lingkungan dan penguasaan suatu keterampilan (life skills) rasanya tidak cukup untuk bisa menjadi bekal hidup mereka pada masa yang akan datang.

Berawal dari sinilah, kami berinisiatif mengumpulkan anak-anak dan remaja untuk mengisi acara peringatan 17 Agustus, dan peringatan hari besar Islam dengan performance remaja seperti ensemble musik, vokal grup dan operet. Seringnya berkumpul untuk latihan itu ternyata menumbuhkan rasa kebersamaan di antara mereka. Komunitas mereka otomatis terbentuk.

2. Usulan langsung dijalankan?

Suami tertarik sesudah membaca AD/ART Gerakan Pramuka di website Kwartir Nasional. Waktu itu saya tidak bisa membayangkan, bagaimana caranya membentuk gudep. Apakah mungkin orang yang sudah lama sekali tidak terlibat dengan kegiatan kepramukaan lalu membentuk gudep? Kebetulan saya punya teman yang pekerjaannya membina pramuka di sekolah-sekolah. Dia mengenalkan kami pada temannya yang juga pembina pramuka. Beliau antusias mendukung terbentuknya gudep teritorial ini, dan memberikan bimbingan bagaimana caranya dan apa syarat-syarat membentuk gudep. Kami pun diberi buku Kursus Mahir Dasar ( KMD ), dan menyarankan kami untuk ikut kursus ini atau pelatihan untuk pembina pramuka juga. Sesudah semua siap, kami sepakat untuk memulai kegiatan pramuka ini pada Februari 2007.

3. Apa kendala awalnya?

Terbatasnya sumber daya pembina. Apalagi, kami kemudian memutuskan untuk tak melanjutkan kerja sama dengan teman pembina itu, karena ketidaksesuaian idealisme. Kami lalu sempat bingung harus berbuat apa. Sampai akhirnya saya memberanikan diri menceritakan masalah ini ke mailinglist pramuka . Alhamdulillah, direspons dengan baik.

Beberapa teman menyarankan supaya saya dan suami yang terjun langsung menjadi pembinanya. Menurut mereka, pada dasarnya orang tua adalah pembina anak-anaknya. Yang penting jadi pembina pramuka itu dasarnya harus sukarela dan ikhlas. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk terjun langsung. Selama beberapa minggu berjalan, semua hal kami tangani berdua saja. Mulai menyusun program latihan mingguan, melatih setiap minggu pagi, sampai mengurusi administrasi dan perlengkapan gudep.

4. Apa sebenarnya kelebihan Pramuka?

Kami ingin anak-anak dan remaja mendapat kesempatan untuk mengembangkan dirinya, pramuka adalah kendaraan yang paling tepat. Di pramuka mereka bisa belajar pertolongan pertama pada kecelakaan, sains dan teknologi, musik, menggambar, masak, menulis, akting, menjahit, berkebun. Pendeknya di pramuka anak-anak bisa belajar apa saja sesuai minat dan bakat mereka. Tidak cuma teknik kepramukaan seperti semaphore, morse, baris berbaris, dan tali temali saja.

Selain itu di pramuka anak-anak juga belajar bersosialisasi, bekerja sama, berorganisasi, dan melatih kepemimpinan sejak usia siaga (SD) sampai usia dewasa dengan sistem barung, regu, sangga, racana. Jadi bisa dibilang pramuka itu kegiatannya 'multiple intelligence'.

Dan karena semua kegiatannya berbasis pada Satya (janji) dan Dharma (moral), Insya Allah outputnya adalah pemimpin yang berkarakter, dan menjunjung nilai-nilai luhur.

Menurut pengalaman saya yang mempunyai anak-anak yang sekarang sudah remaja, pendidikan seperti ini tidak bisa mereka dapatkan baik di rumah maupun di sekolah.

5. Bukankah di sekolah masing-masing mereka sudah mendapatkan kepramukaan?

Pendidikan kepramukaan adalah pendidikan ketiga sesudah pendidikan di rumah dan di sekolah. Kegiatannya berbentuk outbond di alam terbuka, bukan kegiatan di dalam kelas. Kami memilih basisnya di perumahan karena memang awalnya dibentuk untuk mewadahi kegiatan anak-anak dan remaja di lingkungan perumahan kami dan sekitarnya.

6. Bagaimana tanggapan warga perumahan?

Alhamdulillah, cukup banyak orang tua yang menanggapi positif kegiatan ini dan berhasil mendorong putra dan putrinya untuk ikut. Sekarang sudah ada sekitar 35 anak dari siaga, penggalang sampai penegak yang bergabung, dengan 5 orang pembina yang semuanya adalah orang tua dari anak-anak pramuka. Tapi, ada juga yang memprihatinkan, karena ada anak yang berminat ikut pramuka tapi tidak diizinkan orang tuanya. Tantangan kami memang mengubah citra masyarakat terhadap pramuka. Kegiatan ini masih dinilai tidak keren, kampungan. Malah ada yang menilai kegiatan ini corong pemerintah. Jadi kendalanya bukan dana atau teknis pelaksanaannya, tapi mengubah citra.

7. Apakah dana memang bukan kendala?

Alhamdulillah, kebetulan kami bisa mandiri tidak tergantung pada sponsor/donor ataupun kwartir. Modal awal bisa dibilang tidak ada, hanya untuk administrasi dan perlengkapan gudep seperti bendera. Untuk operasional kegiatan mingguan seperti peralatan dan perlengkapan memang semua didanai para pembinanya, yang juga warga perumahan. Kebetulan, para pembina adalah pekerja profesional berpendidikan S1 dan S2 yang di tengah kesibukannya dengan sukarela dan ikhlas meluangkan waktu dan tenaganya untuk bergabung membina anak-anak. Iuran bulanannya yang Rp.20.000, menjadi tabungan kegiatan outing setiap liburan. Kadang-kadang kami juga minta bantuan dana tambahan dari Masjid Al Mukhlishun untuk kegiatan outing, kalau masih kurang.

8. Anak didik selalu antusias?

Kebosanan mungkin ada. Kami harus bisa 'tarik ulur' untuk membina mereka. Harus gaul juga. Kami berusaha terus untuk tetap kreatif dan inovatif. Ke depannya insya Allah anak-anak penggalang sudah bisa lebih mandiri. Pembina hanya mendampingi.

9. Tidakkah tergerak untuk membuat kampanye ke perumahan-perumahan lain?

Sebenarnya, kami mengharapkan media bisa mempromosikan terbentuknya gudep-gudep teritorial/wilayah. Kami lebih fokus pada pengembangan gudep sendiri. Tapi saya membuat blog khusus untuk kegiatan pramuka di www.pramukakita.multiply.com. Selain untuk dokumentasi kami, sarana untuk memperluas jaringan, Insya Allah dapat menambah wawasan teman-teman yang berniat mendirikan gugus depan di lingkungannya. Ke depannya, blog ini bisa menjadi sarana peserta didik untuk mengembangkan kemampuan menulis, dan pengetahuan teknologi.

Thonthowi Dj

08 February 2008

Sarjana pengangguran

Berita di Koran Tempo, 6 Februari 2008
" Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Fasli Jalal menyatakan saat ini di Indonesia ada 740.206 lulusan perguruan tinggi yang menganggur. Mereka terdiri dari atas 151.085 lulusan D-1 ataupun D-2, 179.231 lulusan D-3 dan 409.890 lulusan universitas. Mereka tidak bekerja karena kompetensi tidak sesuai, lulusan yang tidak terserap, memilih tidak bekerja, atau mehasiswa lulusan dari program studi yang sudah jenuh "
Jujur...saya sendiri sering merasa 'miris' dengan sistem pendidikan di Indonesia ini… Berprestasi di sekolah, pintar secara akademis - baca : berhasil jadi sarjana - tanpa punya 'spesialisasi' atau ketrampilan tidak bisa menjamin seseorang sukses dalam hidupnya -ternyata-

Tapi memang kasihan juga anak sekarang…
Sejak kelas 1 SD materi pelajarannya aja udah seperti itu..
Makin gede, makin susah…anak saya yang paling besar yang sekarang duduk di kelas XI bahkan sempat ambil kuliah virtual dari MIT dan berkomentar “Kuliah di MIT kok lebih gampang daripada pelajaran di sekolah ya ?”

Sistem pendidikan di Indonesia mengharuskan anak-anak mempelajari banyak disiplin ilmu, bahkan mungkin terlalu banyak, tapi ngga punya spesialisasi dan ngga menguasai konsep…
Padahal sekolah sampai sore, ditambah bimbel, les pelajaran ini dan itu sampai ngga sempat lagi belajar life skills bahkan mungkin ngga sempat gaul !
Jenuh, pelariannya main ke warnet dan nongkrong di mall..

Duh, apa kabar Indonesia kelak ya....
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...