28 March 2008

Saya


Dapet tag ? ya seneng…

Cuma suka malu aja kalau musti buka2an ketauan dalemannya.
Jadi inget apa kata AD yang saya baca di blognya Hakimtea , juga di sini dan di Pantai Keempat nya mas Artja...

“internet itu untuk orang-orang bodoh dan pengecut”

hmmm…ngerjain tag begini termasuk kerjaan orang bodoh bukan ya ? yang jelas bukan pengecut dong kalau punya keberanian buka2an…wkwkwk

Jadi demi solidaritas blogger, buat sahabat Fiz di Jombang yang berbaikhati meneruskan tag ini ke saya, saya memberanikan diri mengerjakan tag ini…

I'm passionate about:

- Internet dan blog, sebagai sarana pembelajaran, memperluas wawasan, dan jejaring.
- Pendidikan, sejak jadi orangtua, concern saya adalah ke pendidikan anak. Rela tinggal di rumah saja demi bisa mendampingi dan mengasuh anak.
- Musik...main piano dan main biola..tapi sayang udah lama ngga sempet nyentuh viola..
- Lingkungan hidup, sudah lama miris melihat alam yang semakin rusak, tapi ngga berdaya melakukan sesuatu..

Mostly I say:

- Alhamdulillah
- Bismillah
- Subhanallah
- Makasiy ya
- Apa kabar ?
- Keren !
- Astaghfirullah

I've just finished reading:

- Ketika Cinta Bertasbih jilid 2 – Habiburrahman El Shirazy…huaaa…nangis2 lagi…
- Tawa Membawa Hikmah bersama Nasruddin Hoja – Dwi Bagus M.B

InsyaAllah before I die, I want to:


-Bertobat atas segala kesalahan
-Pergi berhaji
-Memperbanyak amal ibadah

I love listening to:

Belakangan ini sih lagi suka banget - agak tergila-gila - dengerin..
Album “Raya Indonesia”
Album “Feel Popularis”
Dua2nya dari Sun, Moon and Stars Project , diklik dong ah..
Keren

What my friends like about me:

- u tell me...hehe...

Last year I've learned:

- mengolah sampah.
- jadi pembina pramuka…AD ART nya keren, sayang selama ini ngga berjalan dengan baik.

Ehm...kali ini jadi buntut lagi ya, Fiz

14 March 2008

Belajar membuat lubang resapan biopori

Sejak diberitahu oleh seorang wartawan dari harian Republika mengenai lubang biopori yang ditemukan dan dikembangkan oleh Bpk. Ir Kamir R Brata MSc dari Bagian Konservasi Tanah dan Air, Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan dari IPB Bogor, saya menjelajah internet dan ketemu websitenya : www.biopori.com

Baca websitenya membuat saya yang hanya ibu rumah tangga yang awam masalah lingkungan ini jadi makin penasaran…

Bentuknya cuma lubang berdiameter 10 cm dengan kedalaman 1 m ?
Bisa mengurangi masalah banjir ? Bisa mengolah segala macam jenis sampah organik menjadi kompos ? Bisa mengurangi emisi gas rumah kaca ? Tapi bagaimana caranya ? Seperti apa bor tanah yang digunakan ? Bau ngga ? Ada tikus atau ular kah ? Dikerubuti lalat tidak ?

Banyak bener pertanyaannya..:D

***

Akhirnya di suatu pagi yang cerah, sesudah mengantar anak-anak ke sekolah, saya bersama teman2 meluncur ke IPB untuk menemui Pak Wahyu dari tim biopori.

Alhamdulillah, kami bisa ‘berguru’ langsung dengan Pak Kamir himself yang dengan sabar berkenan menjelaskan panjang lebar tentang apa dan bagaimana itu biopori di kamar kerja beliau dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh ibu rumahtangga awam seperti saya..

Sebagian besar yang dijelaskan oleh pak Kamir sudah dijelaskan juga di websitenya itu.

Lubang biopori ini berfungsi sebagai lubang resapan air, yang pori2 resapannya dibuat oleh ‘teman-teman’ bawah tanah kita, yang harus kita beri makan sampah organik.
 

“Sedikitnya ada 15 manfaat dari pembuatan lubang resapan biopori.
Sebagai penampungan sampah organik, menjaga keanekaragaman hayati dalam tanah, menyuburkan tanah, mendukung penghijauan, serta mengurangi emisi gas rumah kaca akibat pelapukan bahan organik.

Kemudian dari aspek sanitasi, untuk menjaga kebersihan akibat daun yang dipangkas atau berguguran, mencegah polusi udara, berfungsi meresapkan air lebih optimal.
Jika biopori tersebut dilakukan secara masif oleh masyarakat, lubang resapan biopori juga akan mampu mencegah banjir dan genangan.
Manfaat lain biopori adalah meningkatkan cadangan air dalam tanah, mencegah keamblasan tanah, menghambat intrusi air laut, dan mengurangi pencemaran air.”
( Kompas, 31 Januari 2008 )

Teknis pembuatan

Sesudah cukup mendapat penjelasan ( untuk lebih jelasnya silakan mampir ke : www.biopori.com ), pak Kamir mengambil alat pengebor bioporinya dan mengajak kami membuat lubang dengan alat ‘pengebor’ yang beliau ciptakan itu. ( Wah, sayang saya ngga bawa digicam saya ).

Beberapa hal yang saya catat dari penjelasan beliau :

- Tanah yang tertutup semen dan beton - termasuk yang tertutup lumut - tidak bisa meresapkan air, maka dibuat ‘saluran’ di sekeliling nya dan buat lubang2 biopori di sana berjarak sekitar 30 cm.

- Kalau ingin membuat lubang resapan di dalam selokan yang sudah terlanjur disemen, bisa dipecah dulu sedikit semennya.

- Kedalamannya paling dalam 1 m saja, tapi kalau ‘mentok’ sebelum 1 m krn ada batu/puing ya sudah, tidak perlu dipaksakan.

- Tinggal masukkan bornya, putar searah jarum jam, dan tarik tanahnya keluar. Saya sempat mencobanya dan ternyata mudah saja.

- Untuk ‘mulut’ lubangnya bisa diperindah dengan diberi semen atau pralon ukuran 4 inchi ( jangan lebih kecil ) selebar 2 cm..

- Kemudian masukkan sampah organik ( sampah kebun atau sampah dapur ) ke dalam lubang. Menurut beliau, sampah organik apa saja bisa dimasukkan ke lubang biopori itu…termasuk bangkai tikus ! tapi sebelum dimasukkan keluarkan dulu sebagian isinya, baru masukkan bangkai tikusnya, dan sesudahnya tutup lagi dengan isi yang tadi dikeluarkan.


- Jangan terlalu sering dipanen komposnya krn akan mengganggu keseimbangan di dalamnya -"kalau mau diambil ya setahun sekali saja", kata Pak Kamir. Dan ternyata alat pembuat lubangnya itu juga berfungsi sebagai pemanen kompos.

- Kalau ingin pohon dan tanaman yang kita pelihara subur, buat saja lubang biopori di dekatnya.

- Tikus tidak akan masuk ke sana, karena lubangnya kecil dan berisi sampah, dia tidak bisa keluar mundur. Lalat juga tidak masuk karena tidak terbang vertical. Jadi usahakan sampah yang paling atas adalah sampah yang tidak mengundang lalat.

Haaa…ternyata sesederhana itu !!

Bayangkan bumi kita ini yang sudah tertutup semen dan beton, bagaimana keadaan tanah di bawahnya ? Bagaimana tanaman dan pohon bisa tumbuh dengan baik di tanah yang gersang ? Bagaimana kalau tanah di bawah rumah kita begitu keringnya ? Dan air hujan yang seharusnya jadi berkah malah terbuang dan menjadi bencana.
Dengan tindakan sesederhana itu, ternyata kita sudah dapat berbuat sesuatu untuk menyelamatkan lingkungan !
Terima kasih banyak atas pencerahannya, Pak Kamir.
( Wah, saya bener-bener salut dengan sosok pak dosen yang bersahaja ini )
Insya Allah, saya akan menulis liputannya lagi kalau sudah dijalankan di perumahan kami.

Ayo, buat lubang resapan biopori di lingkungan kita !

Gambar diambil dari sini

13 March 2008

Domino Tag



Begin Here

This is the easy way and the fastest way to :
1. Make your Authority Technoraty explode.
2. Increase your Google Page Rank.
3. Get more traffic to your blog.
4. Makes more new friends.

Rules :
1. Start copy from “Begin Copy” until “End Copy” to your blog.
2. Put your own blog name and link.
3. Tag your friends as much as you can..

Picturing of Life, La Place de Cherie, Chez Francine, Le bric à brac de Cherie, Sorounded by Everything, Moments, A lot to Offer, Blogweblink, Blogcheers, Bloggerminded, Blogofminegal, Like A Dream Come True, Simply Amazing, Amazing Life, Vivek, Novee, DJ Jojo, Eagle, Lita Uditomo ADD YOURSELF HERE!!!

END Here

Rule: Copy the entire list and add your name at the bottom. Tag at least 5 friends..!

Thea, Childstar, Mike, Abie, Aggie, Alpha, Apple, Apols, jacqui, Jane, Jodi, Joy, Kelly, Mich, Peachy, Joey, All in Korea, Umsik, Ideal Pink Rose, Ricka, Rickavieves, weblink, Cheers, Gerl, Gentom, Ging, Munchkin, Geneveric, Kavin, Mars, JK, Vivek, Novee, DJ Jojo, Eagle, Lita Uditomo ADD YOURSELF HERE!!!

Let’s all try to build this up!
( maaf, saya jadi yang terakhir yaa...)

Have a nice day to all!

Thanks to Eagle juga yang sudah mengirimkan tag ini..

03 March 2008

Persepsi pintar


Remaja cowok
ini adalah salah satu murid pianoku yang berbakat.
Belajar piano sejak kelas 4 SD, sekarang sudah duduk di kelas 1 SMA.

Selain berbakat main piano, dia juga sukses di akademis.
Sempat jadi siswa teladan sepropinsi Jawa Barat waktu SD.
Sekarang sekolah di SMA favorit di kota ini.

Lulus ujian piano selalu dengan nilai sangat memuaskan, bahkan ketika dia juga harus belajar untuk ujian nasional SMP tahun lalu.

Selalu mendapat perhatian ketika tampil di konser siswa tahunan sekolah musikku, dan mendapat applause meriah sewaktu tampil membawakan Toccata in D minor gubahan J.S. Bach.

Benar-benar seorang remaja yang potensial…

Bulan depan, dia akan ikut ujian kenaikan tingkat di sekolah musik ku. Tapi sampai sekarang, dia belum menguasai satupun materi ujian yang diberikan !

Kenapa ?
“Ngga sempet latihan. Banyak PR dan tugas di sekolah”

Dan mamanya menelpon aku kemarin, dan bercerita panjang tentang putranya.
“Dia masuk ke kelas internasional, mbak. Jadi pelajaran science dikasih dobel, dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, makanya dia pulang sekolah lebih sore daripada temen-temennya di kelas regular. Pulang sekolah, masih ada aja PR dan tugas yg harus dikerjain. Aduh, gimana ya, mbak ?”

“Kalau hari sabtu minggu gimana, mbak ? bisa latihan ?”

“Nah, itu dia. Hari Sabtu Minggu dia juga ada les sekarang. Les semua pelajaran science.”

Haaa ? *gubrak*

“Iya, mbak. Waktu SMP dia ngerasa dia itu bisa, orang lain ngga bisa. Sekarang, dia ngerasa bisa, tapi lebih banyak temennya yang lebih bisa ! Jadi waktu dia diajak temen2nya untuk ambil les tambahan, dia ikutan aja. Jadinya ya gitu deh, mbak, dia jadi ngga sempet latihan piano. Tapi disuruh berhenti les piano juga dia ngga mau. Gimana dong ?“

Saya hanya bisa memberi solusi seperti ini..
“Mungkin harus bikin prioritas apa yg harus dilakukan, mbak. Untuk pianonya, krn dia mau menghadapi ujian sebentar lagi, prioritaskan dia untuk bisa latihan rutin setiap hari. Nanti kalau sudah selesai ujian, kalau ngga sempat latihan ya saya bisa memaklumi.”

***

Begitulah memang kebanyakan remaja sekarang…
Waktunya habis untuk mengejar prestasi akademis.

Menurut pengamatan saya, seringkali memang lingkungan yang membentuk orangtua dan remaja berpikir bahwa prestasi akademis adalah yang terpenting,  dan ini menjadi target.
Persepsi pintar adalah menjadi pintar di bidang akademis
Kalau anak pintar di sekolah, tentu nantinya banyak kemudahan yang mereka dapat.
Dapat beasiswa, cari kerjaan gampang...dst...

Salahkan pola pikir seperti itu ?

Saya tidak bisa mengatakan salah atau benar, karena sah-sah saja punya pola pikir yang berbeda. Tapi jujur, saya pribadi tidak ingin anak-anak saya menghabiskan waktu dengan belajar pelajaran sekolah saja.

Kalau melihat prestasi akademis mereka - anak-anak saya - , alhamdulillah saya bersyukur…
Nilai-nilai di sekolahnya selalu bagus, sempat mendapat medali di Olimpiade Science tingkat Nasional, juara lomba ini itu, dan mendapat beasiswa karena prestasinya..

Tapi kemudian, menjadi terlalu berlebihan dalam pandangan saya, ketika mereka harus dikarantina hanya untuk belajar fisika dan biologi saja, dan masih juga harus mengerjakan science project untuk suatu ajang olimpiade di Amerika..

Menurut saya, sekolah seharusnya adalah tempat untuk mencari ilmu. Menjadi pandai dan berprestasi adalah ‘efek’ dari penguasaan ilmu itu.

Sama juga dengan belajar piano atau belajar yang lain..
Ujian adalah bagian dari pendidikan, sebagai alat ukur apakah murid sudah menguasai ilmunya atau belum..

Tapi kalau yang menjadi ‘target’ adalah nilai rapot, sertifikat, medali, dan piala, sampai rela menghabiskan waktu dan uang untuk membeli soal ujian, drilling mengerjakan ratusan soal, bimbel dan les mata pelajaran…...

Kapan anak-anak mempunyai waktu mengembangkan diri untuk bergaul, bersosialisasi, belajar menguasai suatu ketrampilan, dan mendalami hobinya ?

gambar diambil dari sini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...