27 February 2007

Pelantikan, Camping ( the end )

Bagian terakhir dari 3 bagian
Acara pagi ini agak meleset dari jadwal semula karena anak-anak baru tidur jam 3 pagi…
Jadi rencana mau masak-masak mie bareng anak-anak untuk sarapan dibatalkan, mas Udi memutuskan untuk cari sarapan keluar sambil jemput Dimas dan mas Budi dari villa.

Mas Udi dan aku menitipkan anak-anak ke ayah bunda Lui sementara kami ‘ngebut’ cari sarapan…Jam sudah menunjukkan pk 7 pagi waktu kami sampai di camp lagi.
Anak-anak sudah menunggu dan kelaparan..
Hmmmm…kayaknya udara dingin membuat perut keroncongan mulu ya..
Ayah bunda Lui menemukan ‘harta karun’ snack dan roti yang ngga ketauan siapa pemiliknya untuk dimakan bareng buat ngganjel perut..
( kayaknya anak-anak ngga packing barang2 bawaannya sendiri kali ya sampai ngga tau apa aja bawaannya…qqqq )

Selesai sarapan, kami semua berangkat ke camp pathfinder.
Perbekalan dan baju kering dibawain sama kak Udi dan ayah Lui.

Petualangan dimulai...
Tantangan 1 memanjat 'dinding' sungai..



Tantangan 2 masuk ke air terjun


berfoto dulu sebelum dijeburin

Ekspresi Farah dan Agsa waktu dijeburin


sesudah dijeburin
airnya dingiiinn bangeet

Ternyata anak-anak belum puas dengan petualangan hari ini, dan minta nyebrang sungai lagi. Namanya anak-anak emang balik lagi ke basicnya…doyan banget main air !
Apalagi ngeliat air sungai yang jernih…waaaa….ngga tahan buat nyemplung lah..

Judulnya sih nyebrang sungai, tapi sesudah sampai ke sebrang dan disuruh naik ke darat…adaaa aja alesannya…

“Kak, sandalnya ketinggalan di sebrang sana…diambil dulu yaaaa….”
( padahal sih ada jembatan buat nyebrang, tapi kok ya balik lagi lewat sungai buat ngambil sandal nya…)

“Ayo naik…naik…!”
Ngga ada yang ‘denger’ ? Bimo mengaku denger sih, cuma kan masih asik, dia bilang.
Cuma Rizki satu-satunya yang naik ke darat, tapi cuma untuk bilang “Masih boleh nambah 5 menit lagi ngga ?”
Hehe…ya udah…
“5 menit lagi !!!!”

Kak Sheila, kak Edi, dan kak Fredy yang nemenin anak-anak pamit disini karena mereka ada acara pelantikan pembina pathfinder.

Akhirnyaaaa….anak-anak mau juga diajak 'mentas'…
Mereka kagum dengan kejernihan air sungai.
Baru nyadar, bahwa seharusnya kalau sungai itu dijaga kebersihannya, ngga jadi tempat sampah raksasa, akan seperti ini jadinya..

Kami semua pulang menuju camp pramuka.
Anak-anak ganti baju di camp, dan bersiap-siap untuk dilantik.

Pelantikan

Siaga

Dwi Satya

Aku berjanji akan bersungguh-sungguh :
- Menjalankan kewajiban terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menurut aturan keluarga
- Setiap hari berbuat kebaikan

Penggalang

Tri Satya

Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh :
- Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan mengamalkan Pancasila ;
- Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat;
- Menepati Dasa Dharma

Rasa syukur, haru dan bangga bercampur aduk ketika anak-anak siaga dan penggalang mengucapkan janji Dwi Satya dan Tri Satya dengan sepenuh hati.

Sebagian anak-anak ini sebenarnya sudah ikut ekskul pramuka di sekolahnya. Tapi berhenti, karena menurut mereka kegiatan pramuka itu ngga menarik dan membosankan.
Ada juga yang hanya pakai seragam pramuka setiap hari sabtu di sekolahnya, jadi memang sudah punya dasi pramuka.

Tapi mereka mengakui bahwa dasi merah putih yang dipakaikan sekarang, sesudah melewati berbagai macam rintangan dalam kebersamaan…survive di tengah hujan deras, jurit malam, memanjat dinding dan berbasah-basah di air terjun...ternyata memberi nilai yang berbeda...

Ada kebanggaan menjadi anggota pramuka, dan sesudah mengalami ini semua mereka melihat pramuka sekarang dengan ‘kacamata’ yang berbeda..
Dasi merah putih ini ngga dilepas-lepas sampai di rumah sesuai pesan kak Udi..

Ya, dimana lagi anak-anak bisa belajar life skills dan memupuk rasa nasionalisme mereka selain menjadi pramuka ?

Jam 10 pagi, kami membereskan camp dan bersiap-siap untuk pulang.
Teman-teman pathfinder datang untuk berpamitan dan berfoto bersama.

kak Udi dan kak Edi di ujung kanan
Alhamdulillah…
Berkat dukungan dari semuanya…tokoh masyarakat dan ‘sesepuh’ di griya depok asri, para orangtua, teman-teman pathfinder, dan juga doa dari sahabat-sahabat blogger, acara peresmian kegiatan pramuka masyarakat pertama di kota Depok berjalan dengan lancar dan sukses…

Terimakasih banyak ya, temans..
Semoga kegiatan ini bisa berjalan, berkembang terus dan bisa memberikan manfaat untuk generasi muda kita ya...amin…

Waktu aku sampai di depok lagi..
Anak-anak sudah menunggu di pelataran masjid.
Farah dan Litya menyambutku dengan semangat “tante Lita, ayoooo, kapan kita camping lagii ? Tapi di tempat yang lain lagi yaaaa..”

Memang ngga kedengeran lagi “Agh, tau gini aku ngga bakalan mau ikutan camping !!”

Baca juga :
Panic mode on, Camping (part 1)
Kemudahan di balik kesulitan, Camping (part 2)
-The End-

23 February 2007

Kemudahan di balik kesulitan, Camping (part 2)

Cerita ini sambungan dari cerita sebelumnya.
Lebih seru bacanya kalau ngikutin dari awal cerita.
Jadi disarankan untuk baca cerita “Camping (part 1)” nya dulu ya

Jaket, jilbab, celana jeans dan tasku sudah basah semua..
Aku ngga tau kapan aku membuka jas hujanku, aku cuma ingat aku membuka jas hujanku untuk dipakai Lui waktu dievakuasi.

Sampai di camp, aku masuk ke tenda anak perempuan..

Tenda putri
Anak perempuan yang ikut cuma 2 orang tapi hebat2 !
Mereka menunggu-nunggu aku, kedinginan, karena jaket dan jas hujannya juga basah waktu bantuin mendirikan tenda, dan cuma punya baju kaos ganti tangan pendek...

Farah (12) bawa sleeping bag tapi basah, Litya (10) malah ngga bawa selimut dan sleeping bag karena mamanya bilang ngga usah...ngeberatin aja...
Untungnya aku bawa kantongplastik sampah ekstra large cukup banyak, bisa dipakai untuk mengalasi.

Aku keluar lagi cari selimut untuk Farah dan Litya di backpack mas Udi yang disimpan di salah satu tenda anak cowoq. Di sana, anak-anak cowoq lagi pada bete karena belum ngantuk dan ngga tau mau ngapain..

Tapi Agsa dan Raihan (9) sudah bersiap-siap mau tidur.
“Agsa bawa selimut ?”
“Bawa, ada di tas”
Aku bongkar tasnya...ketemu sama selimut “Bob the builder”
Tapi...lhooo..apa ini ? Kok ada obat puyer ? Agsa sakit ?
“Iya, sakit batuk pilek. Tapi udah mau sembuh.”
Ya ya ya aku jadi inget, bundanya Agsa bilang, Agsa masih minum obat waktu mau berangkat..
“Kalo gitu Agsa minum obat dulu yaa..”
Jadi aku kasih obat untuk Agsa dulu dibantu sama Raka (12) yang meracik obatnya..

Lagi-lagi aku takjub dengan anak-anak ini.
Mereka sangat mandiri, ngga cengeng, ngga manja, dan peduli dengan orang lain.

Sesudah beres, aku balik ke tenda anak perempuan bawa selimut..
Mulai deh perutku terasa kruyuk-kruyuk kelaparan..
Aku makan ditemenin Farah dan Litya yang mengaku sudah menghabiskan nasi bungkusnya yang berisi nasi, ayam bakar dan lalap daun singkong, tapi ternyata masih laper juga...hehe..kan masih pertumbuhaann..

Alhamdulillah...
Kemudahan 1 : akhirnya hujan mulai reda, udara mulai terasa enak..
Sebagian anak malah sudah tidur nyenyak di dalam tenda, termasuk Farah dan Litya yang tadi sesudah makan aku suruh “berselimut berdua jangan dibuka2 supaya hangat”

Ngga lama..
Kemudahan 2 : kakak2 pathfinder kak Sheila, kak Sandra, kak Edi dan kak Fredi ngajak api unggun di camp mereka.
Waaahhhh, senangnyaaa...semua langsung semangat !
Yaaa...apalagi yang ditunggu kalau camping kalau bukan api unggun !
Anak-anak (kecuali Bagas (8), Rizki (11), Farah dan Litya yang sudah pada tidur susah dibangunin..hehe) langsung berangkat ke camp pathfinder di pinggir danau.

Aku nunggu mas Udi balik dulu dari villa.
Tapi ngga lama sih, pas mereka berangkat, mas Udi muncul bawa jagung..
Basah, dan kelaparan ngajak cari makan mie di warung...hehe...

Surprise !!
Sesaat sesudah anak-anak berangkat.
Muncul Lui dianter ayah bundanya dalam kondisi sehat…segar bugar…dan ceria !
“Kami paksa dia balik kesini”, kata ortunya…

Api Unggun

Kami semua langsung berangkat menyusul ke tempat api unggun menenteng jagung..
Sampai di sana ‘say hi’ sama teman2 pathfinder yang lain.
( Kalau ngga salah ada 17 anggota pathfinder yang sedang camping disana )
Lui langsung bergabung dengan teman2nya.

Api Unggun
ayah bunda Lui dan aku berdiri di belakang

Nyanyi lagu standar 'Pak Gendut'...ada yang inget lagunya ngga ?
Sool sol fa mi sol do re mi mi mi re do
Pak Gendut punya tahi lalat gede 3x
Di atas hidung nyaa...

Trus gimana kalau dihilangkan satu persatu kata nya tinggal…”pak…tahi…nya…”
Haha…anak-anak mulai seneng dan ceria…

Mas Udi yang kelaparan ngajak cari makan di warung terdekat..hehe..perkemahan cibodas mah enak, banyak warungnya…Ortunya Lui diajak juga tapi menolak karena sudah makan katanya.

Waktu lagi nunggu pesenan mie rebus, bandrek dan kopi, ortunya Lui bergabung, katanya mereka ‘diusir’ sama Lui dari sekitar api unggun…haha…
Habislah 3 mangkok mie rebus, 4 gelas bandrek, dan 8 pisang goreng plus bala-bala hangat sambil cerita-cerita inget pengalaman waktu camping jadul…

Sesudah acara api unggun sebenarnya ada acara jurit malam.
Tapi berhubung jam sudah menunjukkan jam 12 malam waktu acara api unggun selesai, mas Udi memutuskan untuk membatalkan acara jurit malam.

Tapi apa reaksi anak2 waktu denger mau ada jurit malam ?
“JURIT MALAM ?? MAUUU DONG…MAU DOONG!!”
Hehe….*enthusiasmmodeon*

Kami semua balik dulu ke camp pramuka..
Anak-anak yang tadi tidur ketinggalan acara api unggun dibangunin untuk jurit malam.
Agsa bingung, antara pengen ikut tapi udah ngantuk. Tadi dia sempat menikmati acara api unggun, dan sempat minta dihukum waktu bikin kesalahan dalam permainan..:))
Akhirnya mau juga dibujuk untuk tinggal di tenda sama mas Tikno.

Camp kami masih gelap dan dingin…
Mas Udi memutuskan untuk bikin api unggun juga di camp kami.
Tapi gimana nih ? mas Udi dan aku harus ikut jaga pos di jurit malam.

Kemudahan 3 :
ada ayah bunda Lui yang mantan ‘camper’ di sini, bisa minta tolong ayah Lui untuk bikin api unggun…

Jurit Malam

Jam 1 pagi, kakak2 pathfinder sudah datang ke camp pramuka untuk memandu acara jurit malam

Siap jurit malam

Anak-anak dibagi dalam 3 kelompok..
Bawa senter, celana digulung selutut, pakai sandal jepit, mencari jejak, melintasi sungai (konon 'menghabiskan' 5 pasang sandal hanyut di sungai) , mendapat tugas sederhana di 3 pos yang dilewati..

Sampai di pos kami, ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab, salah satunya..
“Menurut kalian, apa manfaat jurit malam ini ?”
Mereka menjawab “Untuk melatih keberanian, kemandirian dan kerjasama”

Balik ke camp pramuka, jam sudah menunjukkan hampir jam set 3 pagi !
Api unggun sudah menyala..
Ayah Lui dan mas Tikno malah sudah asyik bakar jagung…

Bakar jagung
mas Tikno di pojok kiri, bakar jagung sambil makan jagung
rizki, bimo, rian, nanda, bagas, raka, dan lui

Suasana mulai hangat…anak-anak senang dan semangat…
(Sayang gitar ngga kebawa, jadi ngga bisa nyanyi “tong tong tong tong makitong-kitong”…kekeke..)

Jam 3 pagi, satu persatu anak-anak masuk ke tenda masing-masing..
Jam set 4 pagi tenda anak-anak sudah sepi, aku, mas Udi, ayahbunda Lui juga masuk tenda.

Kemudahan 4: tinggal mas Tikno yang ngga tidur, mau jaga malam di luar…

Udara menjelang subuh memang biasanya dingin menggigit tulang..
Jam 4 subuh, mas Tikno ngasih tau ada yang nangis di tenda sana…
Ternyata Raihan yang nangis kedinginan ngga bisa tidur karena celananya basah.
Langsung dipeluk mas Udi, digosok minyak kayu putih, dan diselimuti.
Raihan dan Agsa akhirnya bisa tidur nyenyak

Ayah Lui ngecek ke tenda yg lain, dan mendapati Nanda (11) juga ngga bisa tidur kedinginan.
Keluarlah aku, mas Udi, ayahbunda Lui nemenin Nanda ngumpul lagi di depan api unggun.
Mas Udi ‘memanggang’ sepatu-sepatu anak-anak yang basah semua di sekeliling api unggun..

Jam set 6 pagi !
“BANGUUNNN...BANGUUNNNN...” mas Udi teriak mbangunin anak-anak supaya shalat subuh..
Dijawab sama mas Tikno dari dalam tenda “Baru juga mau tidur, paak..” wakaka..
“BANGUUNNNN...BANGUUNNNN...kecuali mas Tikno…TIDURRR…TIDURRR”

Shalat subuh


Kami sangat bersyukur, sesudah menghadapi berbagai kesulitan, kami diberi kemudahan-kemudahan...udara yang cerah terus, teman-teman pathfinder yang sangat membantu ( big thanks to kak Edi dan kawan2..;), ayahbunda Lui yang datang pada saat yang dibutuhkan, dan mas Tikno yang selalu siap membantu dan sangat perhatian dengan anak-anak..

Alhamdulillah...malam ini dilewati dengan meninggalkan kesan yang sangat menyenangkan di hati anak-anak...insya allah kesan pertama ini akan terbawa terus sampai mereka besar nanti..

Hmmm…gimana acara pelantikan anak-anak hari ini ya ??
Kak Udi dan kak Edi udah punya rencana yang lebih seru nihhh....!!

-to be continued-

21 February 2007

Panic Mode On, Camping (part 1)

Ini cerita oleh-oleh dari acara camping minggu yang lalu, ditulis sesudah ‘tewas’ selama 2 hari…kekekek…
Saking serunya acara camping di Cibodas week end 17-18 Februari lalu, terpaksa ceritanya ditulis dalam beberapa bagian..hehe..enjoy ya...

Kesibukan beberapa hari sebelum hari H

Banyak telpon dan sms dari para ibu yang masuk ke hp ku dan mas Udi.
"Campingnya jadi ?"
"Kalau hujan gimana ?"
"Beli sleeping bag dimana ?"
"Topi rimba itu yang kayak apa?"
"Kalau macet pulangnya gimana ?"
"Cucuku mau ikut, tapi belum terima formulir"
Kekhawatiran dan antusiasme datang silih berganti..

Malam menjelang hari H
Tantangan 1 :
Pembina pramuka yang rencananya mau ikut mendampingi membatalkan keberangkatannya karena katanya kakeknya mau dioperasi..
Jadi orang dewasa yang berangkat tercatat hanya 4 orang : mas Udi, aku, mas Tikno (supir), pak Tjandra (ketua RT yg menyupiri mobil VW Combi) ditambah mas Budi mengawal 12 anak ‘kota’ usia 6 – 12 thn yang kebanyakan ‘first timer camper’. Sementara mas Udi dan aku sendiri sebenernya juga udah lupa yang namanya camping...

Last minute !!
Tantangan 2 :
Pak Tjandra membatalkan keberangkatan karena kecapean !
Mas Udi keliling cari rental mobil, sementara anak-anak dan ortu sudah berkumpul di point keberangkatan. Alhamdulillah, akhirnya dapat pinjaman mobil dari pak ketua pengurus masjid…tapi berarti orang dewasa nya tinggal 3 yang ikut....*walah*

Akhirnya berangkat juga !!

Keberangkatan jadi ‘ngaret’ 1 jam dari jadwal..
Jam 14.30 dengan mengucap bismillah…
berangkat menuju Cibodas dengan 3 mobil.
Sepanjang perjalanan hujan derasssss mengguyur..
Tapi sempat mampir shalat ashar di mess departemen agama, beli nasi buat makan malam di camp dan beli jagung buat jagung bakar nanti malam..

Jam 17.30 tiba di lokasi
Di bawah hujan rintik2, kami semua ber-16 berjalan kaki menuju blok tempat camp kami, menggendong bawaan masing-masing ditambah 3 tenda, ember dan perlengkapan perang lainnya..

Tantangan 3 :
Di bawah hujan rintik2, cepet-cepet mendirikan tenda..
2 tenda berhasil didirikan di bawah hujan yang semakin derasssss dan semakin gelap !!
Tenda terakhir…bermasalah !!
Kenapa kok ngga berhasil berdiri dengan benar ????
"BONGKARR...BONGKARRR !!"
"TARIIIKKKK….TARIIIKKKK !!"
"DOROONGGGG…DOROOONGGG !!"
Halah...apanya yang ditarik dan didorong ??
Mas Udi mulai *panicmodeon*

Untung ada mas Tikno yang helpful banged, dia cengar-cengir aja liat mas Udi mulai panik...tapi syukur alhamdulillah....akhirnya tenda terakhir berhasil didirikan...phewww...

Teman-teman dari Pathfinder datang membantu mendirikan 2 tenda lagi.
Mas Udi memang bekerjasama dengan temannya di pathfinder untuk ‘melantik’ anak2 ini menjadi anggota pramuka.

Anak-anak sudah basah, kedinginan dan kelaparan.
Aku sibuk mengurusi anak-anak makan dan berusaha tetap tenang waktu harus menjawab sms dan telpon2 dari ibu2 yang khawatir di depok sana..konon kabarnya di depok sabtu sore itu hujan 'badai' bergluduk...

Tantangan 4:
Anak yang kecil-kecil ngga bisa makan, karena ternyata ayam bakarnya agak pedesss !
( aku cari2 roti atau apa ajalah yang bisa dimakan buat ganjel perut sementara )

Sesudah itu..
anak-anak ‘terjebak’ di dalam tenda karena hujan derasss masih mengguyur..
Mulai deh keluar penyesalan dari anak-anak..
“Ugh, tau gini, aku ngga bakal mau ikutan camping ! Nyesel deh ikutan..”

Sementara Mas Udi masih belum selesai juga dengan 'keribetannya'
Sesudah tenda berdiri semua, dia mulai bikin dapur untuk masak mie buat anak2, tapi trus...

Tantangan 5 :
"Paakkk….tendanya bocorrrr!!"

Kisah si Lui :
Waktu anak-anak udah mulai makan di dalam tenda, dan mas Udi masih berusaha mengatasi kebocoran tenda..
Budi teriak :”Paaaakkkk, ada yang sakit asma !!”
Lui (11) mulai nangis..”Aku kedinginan, aku ngga kuat lagi, aku mau pulang aja”
Dia mulai sesak nafas dan butuh oksigen..
Waduh, diriku mulai *panicmodeon* juga..
”Tenang dulu yaaa…kamu bawa obat ? ayo, minum dulu obatnya”

Lui kita coba pindahkan ke tenda yang lain, trus coba berdiri dulu di luar tenda untuk menghirup oksigen, trus dibawa ke dapur supaya bisa hangat dekat kompor…
Sampai akhirnya teman pathfinder mengusulkan untuk dibawa ke warung dulu..
Haaaaa??? Ada warung ??? Aku sendiri baru ‘ngeh’ kalo dalam jarak 50 m itu ada warung.
Akhirnya Lui aku evakuasi sementara ke...warung terdekat....wakaka...
Disana enak...hangat...bisa minum teh manis panas, dan makan Pop Mie..

Tapi Lui masih juga keluar air mata...minta mama nya...
Ayah bundanya Lui yang mantan pendaki gunung bolak-balik sms dan nelpon “Kami akan menyusul kesana, tapi tolong jangan kasih tau anaknya ya kalo kami akan ada di sekitar sana”
“Masa anak gw ngga bisa camping”, gitu kata mereka..hehehe...

Mas Udi memutuskan mengevakuasi Lui dan Dimas,8 ( lho, kok anak ini ikut mengaku sakit perut..hehe..). Mereka dievakuasi ke villa terdekat ditemenin mas Budi yang kumat hidungnya karena alergi dingin..

Kisah si Agsa :
Agsa (6,5) peserta termuda di sini.
Dia bawa backpack yang lebih berat dari badannya sendiri.
Tapi dia menolak keras untuk dibawain sama aku backpacknya. Baru mau waktu aku bujuk untuk tukeran sama bawaanku…kantong plastik isi mukena…
Dan waktu ditawarin untuk ikut dievakuasi ke villa, dia keukeuh sumeukeuh ngga mau.
Agsa mau di tenda aja !...wwaaw...*takjubdotcom*

Begitulah...
tantangan demi tantangan terselesaikan...

Sesudah mas Udi, Budi, Lui dan Dimas berangkat ke villa.
Aku balik ke camp, ngecek anak2 yang lain..
Keliatannya semua sudah aman terkendali, ada teman-teman pathfinder yang mengawasi..
Tenda-tenda bocor sudah dilapisi plastik, anak-anak yang kecil sudah makan pop mie dan roti, Lui sudah dievakuasi..
Ngga terasa sudah jam 10 malam..
*panicmodeoff*

gimana kelanjutan kisah si Lui, Agsa dan teman-temannya ?
-to be continue-

12 February 2007

Pembinaan karakter anak

Pernah nyanyi lagu ini ?

Tong tong tong tong
Makitong kitong
Alemago gebosek katarimasua
Sasue masasua

Itu lagu jamannya aku ikut pramuka dulu..
Ngga ngerti artinya sih, tapi asik aja kalo udah rame-rame nyanyi lagu itu bareng temen2, pake gitar waktu camping..

Aku ikut kegiatan pramuka itu waktu SMP, jadi tingkatnya penggalang.
Rasanya sih kegiatannya keren banget waktu itu. Ilmu ketrampilannya masih membekas sampai sekarang, sampai buku2nya termasuk buku jurnal pramuka nya( logbook ) masih aku simpen sampai sekarang…

Pramuka dulu

Kebetulan suamiku juga dulu ‘aktifis’ pramuka waktu SD nya.
Dia ikut pramuka di ITB waktu siaga.
Jadi aku dulu pernah jadi ketua regu penggalang, mas Udi juga pernah jadi ketua barung siaga. Tapi di tempat dan waktu yang berbeda..:)

Duluuuu…mas Udi jadi ketua barung waktu baru duduk di kelas 3 SD, anggota barungnya malah baru kelas 1 dan 2 SD, tapi ada pengalaman yg masih nempel sampai sekarang…yaitu barungnya pernah jadi juara lomba masak ! hehe…kebayang ngga sih…masih kelas 1,2 3 SD gitu. Bahkan mas Udi mampu menjahit sendiri tendanya di kelas 3 SD itu...hehe..suamiku gitu loh..

Ya, kita memang ngerasain banyak banget ilmu dan pengalaman yg kita dapet dari kegiatan pramuka ini. Belajar menjadi leader, belajar bekerjasama, survival, P3K, melatih kreatifitas dan banyak lagi ketrampilan yang semuanya ngga didapet dari bangku sekolahan..

Dan aku inget, dulu itu kalau ada kegiatan di sekolah, pasti anak2 pramuka yg diandalkan untuk jadi koordinatornya atau duduk di kepengurusan OSIS.
Aku sendiri sempet juga sih dipilih jadi calon ketua OSIS, dan sempet dibikinin poster2 "vote for lita" sama ‘pendukung’ ku dalam masa kampanye…hehe, pengalaman kyk gini kan bisa jadi cerita ke anak tjutju.."dulu itu eyang...bla..bla.." huaahaha

Makanya dari dulu, pengen banget anak2 juga bisa ikut kegiatan pramuka.
Tapi ternyata ya, sayang sekali beberapa tahun belakangan ini kegiatan pramuka 'menghilang'.
Waktu itu ngga ngerti juga kenapa kegiatan ini bisa menghilang, sampai kita sempat cari informasi ke Kwartir Nasional.

Pramuka sekarang

Ada sih memang ekskul pilihan di sekolahnya anak2 di SD nya dulu, tapi Pembina nya guru sekolahnya sendiri yang mungkin dulunya ngga pernah jadi pramuka. Jadi yaaa…kegiatan pramukanya sendiri ngga jalan, malah membentuk image yang kurang pas ttg pramuka di benak kebanyakan orangtua.

Sekarang ini, anak2 itu kenal Pramuka kebanyakan cuma dari seragamnya yang dipakai komplit dengan dasinya sebagai seragam sekolah tiap hari Sabtu..*halah*. Padahal, buat anggota pramuka itu sebenarnya, waktu bisa dilantik dan berhak pakai dasi merahputih karena sudah berhasil menguasai beberapa ketrampilan adalah suatu kebanggaan tersendiri.

Tulisan ini cukup menjelaskan kenapa kegiatan pramuka menghilang dalam jangka waktu yang lama.

Pramuka sebagai wadah pengembangan diri dan pembentukan karakter

Aku pribadi merasa, bahwa sekarang ini memang ada yg kurang dari system pendidikan anak, yaitu tidak adanya wadah untuk pembinaan karakter.

Anakku, Budi, pernah terpilih juga jadi ketua OSIS melalui pemilihan ketua OSIS waktu di SMP, tapi karena tidak terlatih sejak kecil, dan kurang pembinaan dari sekolah juga, dia sempat ngga ngerti harus ngapain kalau jadi ketua itu..

Di lingkungan rumah juga begitu. Jarang sekali ada anak remaja yang bisa diandalkan untuk memimpin.

Mencoba membentuk gugusdepan

Karena itulah, aku dan suami merasa perlu ada wadah untuk pembinaan karakter anak-anak. Selama ini, disela2 kesibukan kami berdua, aku dan suami berusaha meluangkan waktu dan mencoba terlibat dalam pembinaan remaja di lingkungan rumah, sebenarnya terdorong rasa keprihatinan melihat situasi Indonesia yang seperti sekarang ini. Terjadi degradasi moral, krisis kepemimpinan, tidak adanya tujuan dan cita-cita. Bahkan anak2ku sendiri pesimis apakah masih ada harapan untuk Indonesia yang lebih baik di masa depan.

Apa wadah yang cocok ? salah satunya ya memang pramuka itu tadi..
Program Pramuka memang di-design untuk mempersiapkan generasi penerus yang :
Memiliki kepribadian dan kepemimpinan yang berjiwa Pancasila
Berdisiplin yaitu berpikir, bersikap dan bertingkah laku tertib
Sehat dan kuat mental, moral dan fisiknya
Memiliki jiwa patriot yang berwawasan luas
Berkemampuan untuk berkarya dengan semangat kemandirian, semangat kebersamaan, kepedulian, bertanggungjawab, berpikir kreatif, inovatif, dapat dipercaya, berani dan mampu menghadapi tugas-tugas dan memiliki komitmen
Jadi menurutku, memang bagus banget kalau gerakan pramuka ini direvitalisasi seperti 'janji' pak presiden SBY waktu Jambore Nasional Juli 2006 lalu. Paling tidak kegiatan ini bisa menjadi wadah pembinaan karakter anak-anak usia SD sampai SMP.

Alhamdulillah, segala puji hanya kepada Allah SWT..
Dari rangkaian kegiatan kami selama ini, suamiku berhasil mendapat dukungan dari lingkungan sekitar untuk membentuk gugusdepan di kompleks tempat tinggal kami.
Para tokoh masyarakat disini juga menaruh harapan besar untuk berjalannya kegiatan ini.
Insya Allah kegiatan pramuka masyarakat ini akan diresmikan di Cibodas hari Sabtu yang akan datang..

Doain ya, semoga kegiatan ini bisa berjalan dan memberikan manfaat untuk anak-anak, generasi penerus kita…

05 February 2007

Musim Hujan di Depok

cerita week end kemaren lumayan 'seru'
awalnya mulai hari kamis kemaren sesudah hujan turun terus menerus, seperti biasa ibukota Jakarta, kota metropolitan, mulai kebanjiran...

liat di TV, semua channel memberitakan banjir di jakarta..
yang miris kalau liat bayi-bayi dan balita yang sakit dan kedinginan..
duh, ngga tega bener deh...

Beberapa teman di Jakarta termasuk Onno yang tinggal di Cempaka Putih mengabari lewat sms bahwa beberapa hari ini sempat terkurung di rumahnya dengan listrik mati.

Pengennya sih terjun langsung ke lapangan untuk mbantu, tapi sadar kemampuan diri. Jadi ngga banyak yang bisa dilakukan kecuali ngedrop bantuan di posko banjir dan berdoa..

Di Depok..
relatif aman sih dari banjir, meskipun kalau liat air di sungai Ciliwung yang tinggi dan arusnya dereeesss banget bikin deg2an juga..beberapa daerah di Depok yang lokasinya di bantaran sungai Ciliwung yang selama ini aman, memang pada akhirnya terkena banjir juga..

Cuma meskipun rumah ngga kebanjiran, PAM Depok mati sejak hari Sabtu sampai hari ini karena pompa nya terendam lumpur dan sampah. Mengakibatkan air bersih ngga bisa mengalir ke 41.000 pelanggannya.

Kebayang ngga jadinya kayak apa suasana di Depok ?
dimana2 keliatan orang ngantri bawa ember atau botol galon untuk ngambil air di tetangga yang punya sumur, atau beli air isi ulang buat mandi dan masak..
orang-orang juga memenuhi tempat-tempat makan..
hehe...disitulah letak serunya..ada rasa 'kebersamaan' menghadapi ini..

aku termasuk pelanggan PAM yang harus ngambil air ke tetangga..
tapi termasuk yang beruntung banget karena bisa ambil air di masjid deket rumah...alhamdulillah.. ngga ada air dari PAM buat kami memang ngga terlalu jadi masalah, karena anak-anak sudah besar.

mas Udi sendiri menyikapi semua ini dengan 'santai'
yang bikin aku ngga jadi *panicmodeon*
dan bisa menyikapinya dengan lebih sabar...alhamdulillah..

Alam, lingkungan hidup, hujan semuanya adalah ciptaan Allah SWT
seringkali perilaku umat manusia nya sendiri yang menyebabkan bencana.
ya, seperti banjir yang terjadi sekarang ini lah..

padahal sebenarnya kita sudah berulangkali diingatkan ya..
untuk mencintai alam dan lingkungan hidupnya, dan memeliharanya dengan baik..
banjir di musim hujan sudah terjadi setiap tahun..

tapi tetap saja..
buang sampah sembarangan..
tanah ditutup jadi mall dan bangunan...
hutan digunduli..

"Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih" (Q.S.17:67)
jadi ya..semua yang terjadi sekarang ini memang akibat perilaku manusianya sendiri yang kurang mencintai lingkungan hidupnya.

alhamdulillah, selalu ada hikmah dari setiap kejadian..
anak-anak ku bisa banyak belajar dari kejadian ini..
air PAM mati, ngga ada air bersih, dan merasakan benar-benar..
bahwa air adalah sumber kehidupan manusia, dan kenapa hujan bisa menenggelamkan kota jakarta.

mudah2an kita semua diberi kesabaran untuk melewati semua ini ya.
dan mulai dari diri kita sekarang untuk merubah perilaku.
karena memelihara lingkungan hidup adalah tanggungjawab semua umat manusia.

01 February 2007

Polisi Daun

‘Polisi Daun’ itu istilah dari tetangga kecilku..
Inget iklan A Mild di TV kan..
Seorang perempuan muda dengan Honda Jazz nya melanggar rambu lalulintas karena mengira ngga ada polisi, tapi ternyata tiba2 muncul polisi yg menyamar jadi pohon ?

Itu reality banget yaaa…memang seriiiing banget terjadi di Indonesia..
Kayaknya udah jadi mental orang di Indonesia utk ngelanggar peraturan…:(

Padahal anak-anak kan belajar dari situ..
Coba aja bayangin, kita lagi ngantri di kemacetan. Trus ada mobil, yang udah jelas-jelas dipasang rambu dilarang u-turn di situ…eeehhhhh…ngelanggar…&^%$#@
Trus keluarlah komentar anak2 “Loohhh......kok ngelanggar siiih”

TANYA KEN-APA ??

Mas Budi juga suka ngingetin aku kalau naik mobil ngga pake seatbelt.
Soalnya aku memang suka lupa pake seatbelt dan buru2 pake seatbelt kalo ngeliat ada polisi…hikhik..

Mungkin karena saking seringnya kelupaan begitu…
Kemaren waktu aku pulang dari bandung dengan kepala puyeng dan terpaksa ngelepas jilbab, refleks ngerasa ngelanggar aturan waktu liat ada polisi...cepet2 mau pake jilbab lagi..hihi..
diketawain mas Udi deh..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...