22 March 2007

Penyegaran

berapa hari ini daku rasanya bad mooooood banget, kesenggol dikit bisa langsung ngomel..hiks...
lilik bilang, "kayaknya perlu refreshing deh, mba..."

jadi dalam rangka refreshing, tadi pagi aku diajak ibu yang baik hati ini makan bakso atom yang baru buka di depok, padahal blio baru jurit malam begadang sampe pagi loh..

kita penasaran sama bakso atom secara sejak buka antriannya selalu kayak uler panjangnya ya, lik ?

ternyata nyampe disana jam 10 lewat kok sepi ya..
lhaaa iya sepi...wong belum buka kok.. hehe..jam 10 kok belum buka gitu loh..
kata lilik, baso enggal aja jam 8 udah buka...

maka terjadilah negosiasi antara si ibu dengan si mas di depan pintu yg baru terbuka separo...
"bukanya jam berapa, mas ?"
"jam 10,bu"
"lho, sekarang kan udah jam 10 lewat ? kok belum buka ?"
"iya, bu, boss nya baru datang, kita mau meeting dulu"
hihi...meeting ?
"ngga baik loh, mas, nolak pelanggan...PAMALI.."
wah, ternyata maju terus pantang mundur nih si ibu..
akhirnya si mas nyerah deh..
"ya, udah deh, bu...ditunggu 15 menit ya, bu, tapi ibu jangan marah ya.."
masuklah kita nunggu di dalem..
eh, beneran loh...kita nunggu 15 menit, langsung ditawarin ngorder..
padahal di luar masih ada yg nungguin blom boleh masuk
ternyata sakti juga ya ibu ini...kata kuncinya kayaknya "pamali" itu

trus..
ngga lama sih kita disana, cuma ngabisin 1 mangkok baso sama teh botol..suer deh..
baksonya juga cuma segede bola tennis aja kok..hehe..

sampe rumah buka2 blog...wah, kayaknya si blog perlu refreshing juga nih..
jadilah blognya ganti kulit lagi..
nanya dong, berat ngga sih bukanya ? ayo dong protes...

20 March 2007

Kode Kehormatan

Kode kehormatan adalah suatu norma/ukuran kesadaran mengenai akhlak ( budi pekerti ) yang tersimpan dalam hati orang sebagai akibat karena orang tsb tahu akan harga dirinya.

Kode kehormatan pramuka ialah suatu norma dalam kehidupan pramuka yang merupakan ukuran atau standar tingkah laku pramuka di masyarakat.

Kode kehormatan pramuka merupakan janji dan ketentuan moral pramuka yaitu Satya Pramuka dan Darma Pramuka.

Kode kehormatan adalah identik dengan harga diri, kehormatan diri.
Pelanggaran Kode Kehormatan = jatuhnya harga/ kehormatan diri seorang pramuka.
Begitulah yang tertulis di buku bahan Kursus Mahir Dasar (KMD) untuk pelatihan Pembina pramuka.

Sebenarnya, latihan pramuka kami sudah berjalan dengan 10 siaga dan 11 penggalang. Barung dan Regu juga sudah terbentuk. Anak-anak juga semangat.

Sayangnya, pembina yang sudah kami minta bantuannya dalam proses pembentukan gugus depan ini ternyata tidak mampu menjaga kode kehormatan pramuka, di latihan pertama blio datang terlambat 1 jam, dan tanpa pemberitahuan blio tidak muncul di latihan kedua.
Sehingga kami terpaksa harus mencari Pembina lain yang 'lebih memenuhi syarat', maksutku punya idealisme yang sama..

Sampai sekarang masih kita coba cari terus solusinya, salah satunya adalah melalui milis pramuka.

Ketika saya menyampaikan kesulitan saya, alhamdulillah saya mendapat tanggapan dan masukan berharga untuk terbentuknya gudep territorial yang berbasis masyarakat ini dari rekan-rekan pramuka di berbagai daerah di tanah air…*terharudotcom*

Beberapa rekan pramuka menulis tentang kepramukaan dan pembina pramuka di emailnya spt ini..

Jujur saja, saya sangat bangga dengan pendidikan kepramukaan yang saya peroleh sehingga membuat saya seperti sekarang, sikap, mental dan perilaku saya sangat dibentuk oleh hal itu ... saya ingat saat Siaga diajari oleh Bunda saya bermacam-macam hal, ketrampilan, pengetahuan dan permainan yang tidak diajarkan oleh orang tua saya sekali pun di rumah ... itu masih sangat berkesan sampai sekarang." (Ghulam-Semarang)

Kak Lita, siapapun bisa menjadi seorang Pembina, tidak harus mempunyai latar belakang seorang guru atau mempunyai sertifikat KMD yang dikeluarkan Kwartir. Setiap orang dewasa yang mempunyai kemampuan dan kemauan bisa menjadi pembina dan pelatih pramuka. Prinsip dalam gerakan pramuka adalah suka dan rela, jadi tanpa paksaan dan ikhlas. Membina siaga dan / atau penggalang juga tidak harus materi tekpram saja tetapi lebih diutamakan adalah budi pekerti dan keterampilan yang mendukung minat dan bakat peserta didik. " (Rahmat-Surabaya)

"Menjadi Pembina sukarela memang pada dasarnya adalah panggilan jiwa." (Hendro)

Kualitas Pembina buat kami memang menjadi penting banget, krn kepada merekalah kami ingin menitipkan anak2 kami untuk dibina.

Seperti juga yang ditulis rekan-rekan pramuka di emailnya…
"Sebagai perintis tentunya ngga sedikit tantangan yang harus dihadapi"
"Maju terus!"
Menyebarkan semangat dan optimisme..

Ya, kami akui, memang ngga sedikit tantangan yg harus kami hadapi, diantaranya adalah kualitas pembina dan image masyarakat ttg pramuka..

Tapi insya allah, kegiatan pramuka kami akan tetap terus berjalan...
Dan berdasarkan masukan2 dari rekan2 pramuka, sementara ini kami sendiri yang turun langsung jadi pembina, membuat program, menghandle administrasi gudep..dll..

Sambil mencoba mencari tenaga bantuan untuk membina..
( berharap ada yg tergerak untuk bantu sesudah baca.. )

Hmmm…saya jadi inget komentar maknyak,"Pramuka masih ada kok, Lit"
Wah, bener, maknyak, dengan bentuk2 dukungan dari rekan2 pramuka yg seperti ini kami jadi merasa yakin pramuka memang masih 'eksis'

10 March 2007

Mau belajar instrumen musik apa ?

Terinspirasi oleh tulisan teman seperjuangan saya, maz eko, pianis jazz yang kalau udah main piano suka bikin diriku 'mangap' a.k.a terpesona, penulis buku best seller "Metode Dasar Belajar Piano Pop" yang menulis "Bisa piano bisa semua alat musik ?" di blognya.

Hmmm...buat saya ini menarik...
dan mungkin pendapat pribadi saya ini bisa sedikit menambahkan tulisan blio.

Banyak orangtua yang ingin anaknya bisa main musik karena menurut penelitian di negara barat, main musik itu bisa mencerdaskan anak dan baik untuk keseimbangan otak kiri dan otak kanan. Saya sendiri belum melakukan penelitian atas diriku sendiri sih..hehe..jadi percaya aja ya.. memang banyak manfaat yang bisa diperoleh dari musik.

Lalu pertanyaan berikutnya "Instrument musik apa?"
Saya yakin, kebanyakan orangtua memang akan menjawab "Piano !"

Kenapa ? alasannya memang bisa macam-macam, salah satunya memang persis seperti apa yang ditulis maz eko "Karena kalau bisa main piano pasti bisa semua alat musik"

Apa betul begitu ?
Kalau menurut maz eko, ini cuma mitos.

Saya akui, memang betul selama ini ada paradigma kalau bisa main piano 'klasik' itu pasti bisa memainkan semua instrument musik. Imho, paradigma ini ngga salah juga sih. Paling tidak ini menurut pengalaman saya selama ini yang sudah pernah 'bersentuhan' dengan instrument lain di luar piano.

Saya belajar piano 'klasik' sejak umur 9 tahun.
Di umur 14 tahun, waktu saya masih duduk di SMP, saya diajak bergabung dengan teman-teman mahasiswa ITB yang membuat suatu pementasan sendratari ballet dengan iringan live music gamelan Bali digabung dengan brass instrument seperti trumpet dan trombone.

Saya sendiri waktu itu kebagian jadi salah satu penabuh gamelan Bali nya.
Hmmm…ini salah satu pengalaman ngga terlupakan buat saya..instrumen pentatonis yang digabung dengan instrument diatonis menghasilkan warna suara yang unik di telinga muda saya waktu itu..

Lalu jaman kuliah dulu, saya jadi anggota marching band kampus dan pegang instrument Bell-lyra sebelum jadi ketua suku Saxophone.



Dimana saya belajar niup saxophone ? ya, disana...belajar sendiri, bareng temen2..

Belakangan ini, keinginan untuk bisa memainkan instrument musik lain selain piano kok ya ternyata masih menggebu-gebu. Jadi saya sempat belajar memetik gitar klasik dan sekarang masih juga menekuni salah satu string instrument : Viola.

Viola itu 'kakak'nya Violin, bukan dari segi umur, tapi dari segi ukuran.
Viola ukurannya agak lebih besar dibanding violin.

Suara Violin memang ada di range suara Sopran (tinggi), partiturnya menggunakan treble clef, sementara Viola ada di range suara Alto (menengah). Kunci/Clef yang dipelajari untuk viola memang berbeda dengan kunci-kunci atau clef yang biasa digunakan untuk kebanyakan instrument musik ( Treble Clef atau Bass Clef ) , partitur viola menggunakan Alto Clef.
Meskipun sama-sama digesek, bahkan tidak semua pemain violin dapat secara otomatis memainkan viola karena perbedaan clef itu.

Yang saya rasakan adalah...
Bisa baca not balok dan bisa main piano memang tidak menjadikan saya secara otomatis menguasai instrument musik yang lain. Saya tetap harus mempelajari bagaimana cara membunyikan gamelan, saxophone, gitar dan viola dan tetap harus berlatih untuk bisa menghasilkan bunyi yang baik dan benar…

Tapi ada yang bisa saya simpulkan dari pengalaman saya ini…

Bisa main piano 'klasik' memang memudahkan kita mempelajari instrument musik yang lain karena :

  • Sudah menguasai not balok lebih dari 1 clef ( partitur piano menggunakan bass clef dan treble clef sekaligus )
  • Musikalitasnya sudah cukup terlatih
  • Terlatih memainkan melodi sekaligus harmoni di kedua tangan

Memang betul apa yang ditulis oleh maz Eko, kalau mau belajar instrument musik ngga usah muter-muter langsung aja belajar instrumentnya dari awal, supaya tidak terbuang waktu percuma.

Masalahnya..
Pilihan instrument musik untuk anak2 umur 5 tahun itu memang masih sangat terbatas.

Dari begitu banyak jenis instrument musik akustik dan elektrik :
woodwind instrument ( clarinet, saxophone, bassoon, flute dsb. ), brass instrument ( trumpet, trombone, horn dsb ), string instrument ( gitar, violin, viola, cello, bass dsb), maupun percussion, atau bahkan instrument traditional indonesia seperti gamelan, angklung, kolintang, kecapi, rebana, atau instrument musik elektrik lainnya…

Mungkin cuma ada piano, keyboard, biola atau drum (?) yang masih memungkinkan dipelajari oleh anak2 sejak umur 5 taun.

Statement "bisa main piano bisa semua alat musik" buat saya bisa jadi bener, karena mungkin ngga berlaku kebalikannya. Artinya bisa main gitar atau biola belum tentu bisa main piano, karena harus belajar lagi baca not balok di Bass Clef.

Nah, kalau statement "bisa main piano klasik pasti bisa piano pop, piano jazz atau keyboard" memang kurang pas. Seperti yang ditulis maz Eko, kalau mau belajar piano pop/jazz atau keyboard langsung aja ke instrumentnya, ngga usah 'muter' lewat piano klasik..

Jadi sebenarnya, itulah sebabnya piano masih menjadi pilihan instrument pertama anak-anak sampai sekarang, karena piano termasuk yang paling 'lengkap' dari sisi apa yang harus dikuasai seorang pemain musik, dan bisa dipelajari sejak anak berumur 5 tahun.

Cuma sayangnya, memang ada kendala...
Salah satunya yang sering muncul adalah "harga piano 'mahal'"

Ada seorang bapak pengunjung blog saya menulis kira2 spt ini di emailnya..
"Saya ingin anak-anak saya mengerti musik dan belajar piano, tapi kami tinggal di Aceh. Dan pasca tsunami, rasanya ini adalah hal yang sulit"

Menurut saya, kendala-kendala itu sebaiknya tidak jadi penghalang anak-anak untuk bisa bermusik. Bermusik dalam pandangan saya bukan hanya berarti bisa main piano.

Anak-anak mengenal musik bisa dari cara apa saja..
Menari, menyanyi, bermain perkusi sederhana, mendengarkan lagu, semuanya akan mengembangkan musikalitas anak-anak. Dan seharusnya, di sekolah dasar, anak-anak sudah bisa bermain musik bersama dengan instrument musik sederhana seperti perkusi, suling dan pianika.

Kalau orangtua ingin anak-anak menguasai salah satu instrument musik dan memang 'kemampuan finansial' orangtua terbatas, mungkin bisa dipilih instrument musik yang harganya masih terjangkau…gitar atau biola barangkali ? atau harmonika ? ;)

Tulisan ini hanya pendapat pribadi saya berdasarkan apa yang pernah saya alami. Mungkin ada yang bisa menambahkan atau mengoreksi ?

06 March 2007

Anak-anak di sekitarku

Ngajar piano itu memang enak, meskipun kadang ada ngga enaknya juga.
Soalnya berada di ‘kamar kecil’ berukuran 2x3m selama 6 jam hampir setiap hari kadang bikin jenuh juga.

Apalagi harus ‘on’ terus ngadepin berbagai macam karakter murid..
Kadang-kadang ada juga yang bisa bikin ‘sakit perut’ kalau udah jamnya ngajar anak itu.
Kalau ngajar anak yang rada ‘lambat’ insya allah aku masih bisa sabar.
Ujian kesabaran terasa berat itu biasanya kalau ngadepin anak yang ngga pernah latihan.

Yang seperti ini cukup sering keluar waktu aku ngajar....
“Kamu punya piano di rumah ?”
“Punya”
“Pianonya buat pajangan apa buat dimainin ?”

Hehe…itu masih mending, kalo gini kan susah…
“Kamu punya piano di rumah ?”
“Engga. Mama bilang piano mahal, jadi aku belum dibeliin piano sama mama”
*speechless*
Ya udah, aku ngga pasang target buat anak ini supaya ngga jadi beban buat hati aku..

Tapi banyak juga murid yang bikin aku tetap semangat ngajar..
Salah satunya adalah Hana.
Hana baru kelas 4 SD, pertama kali datang les udah bikin aku terkagum-kagum.
Dia datang sendiri naik ojek karena orangtuanya dua2nya bekerja.
Jadi aku belum kenal dengan orangtuanya..
Dia sangat komunikatif, cerdas, mandiri dan disiplin..wah, ngga tau deh gimana ortunya ngedidiknya…Aku suka banget sama anak ini. Progressnya memang termasuk luarbiasa..

Ancilla, kelas 1 SD. Dia siswa pindahan dari guru yang lain.
Tiap kali les, Cilla ngga mau pulang…
“Aku lebih suka les piano daripada les bahasa inggris”
“Aku mau les piano aja terus sampai sore, soalnya dirumah ngga enak ngga ada mama, aku bosen ngga pernah jalan2 keluar” *halah*
Dan satu kalimat yang sering keluar itu adalah “Aku ngga sanggup!”

Iffa juga kelas 1 SD..
Ibunya selalu mengantar dan menunggui anaknya les.
Dia keliatan senang sekali belajar piano, sampai maksa mau les piano meskipun lagi demam…duuhhh…bikin terharu ngga sih..

Icha juga kelas 1 SD
Ceriwis banged. Lebih suka mewarnai daripada main piano.
Pernah mogok main piano dan ngambek…“Aku ngga bisa ! Ini susah !”
Hmmm…aku bilang “Kalau kamu bilang ngga bisa, bakalan ngga bisa beneran. Masalahnya tu kamu mau apa engga mau. Ok, ibu tunggu ya…kamu bisa mulai lagi kalau kamu udah siap”
Akhirnya, dia memang berhasil melakukan apa yang aku minta…

Kalau Litya udah les piano sejak kelas 1 SD, sekarang dia udah kelas 5 SD.
Dekeeettt banget sama aku. Dia pernah peluk-peluk aku, dan pegang2 perut aku..
Dia bilang,”Tante, ini ada isinya ngga ? ada adek bayinya lagi dong, perempuan…biar jadi temen aku” Huwaaaaa...ada-ada aja deh..

Alhamdulillah, murid2ku betah bertahun-tahun belajar piano..
Mereka membuatku mencintai pekerjaanku..:)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...