14 June 2012

Mencermati Bank Sampah

Melanjutkan catatan saya sebelumnya tentang mimpi membangun RW Hijau, saya akan menceritakan sedikit tentang proses membangun jaringan komunitas bank sampah yang sedang diupayakan teman-teman UI untuk kota Depok dari kacamata saya yang sederhana.

Membangun bank sampah bisa menjadi salah satu solusi pengendalian sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Sampah karena seperti bank uang, bank sampah ini juga memiliki nasabah yang menabung sampah anorganik. Jadi setelah dipilah warga, sampah anorganik tidak diangkut ke tempat pembuangan sampah tapi dibawa ke bank sampah untuk ditimbang, dihargai, dan kemudian harganya dicatat di buku tabungan nasabahnya.

Petugas kebersihan Gridea yang memilah sampah di gerobaknya
dan menjual sampah anorganik untuk tambahan uang sekolah anak
Hanya saja, ada hal yang cukup penting untuk dicermati tentang bank sampah, karena sesudah beberapa kali bertemu dan berdiskusi dengan teman2 dari tim UI yang sedang membangun komunitas bank sampah ini, saya menemukan persepsi yang berbeda di antara kami dalam melihat persoalan sampah.

Beberapa tahun terakhir, waktu saya mulai mengelola sampah rumah tangga saya, saya belajar dari teman2 aktivis lingkungan bahwa mengatasi masalah sampah adalah berusaha mengurangi sampah yang kita hasilkan, kalau bisa sampai ke titik nol atau zero waste.

Tapi coba perhatikan hal berikut ini :
waktu kami merencanakan bersama-sama akan membuat training of trainer bank sampah, (seperti kebiasaan saya kalau mengadakan kegiatan di pramuka yang sebisa mungkin zero waste) ketika saya mengusulkan untuk tidak menggunakan air minum kemasan dan snackbox untuk konsumsinya, mereka mengatakan bahwa justru kita pakai itu untuk memberikan contoh sampah apa yang bisa ditabung di bank sampah. Menurut teman2 waktu itu, sekarang ini sulit menghindari penggunaan air minum kemasan dan snackbox kalau kita mengadakan acara
Itu artinya...
ada hal kritis di bank sampah yang perlu kita cermati yaitu bagaimana untuk tidak mendorong orang untuk tidak menghasilkan sampah sebanyak2nya hanya karena ada nilai ekonominya

Di sini saya menemui perbedaan persepsi Reduce dalam sistem pengelolaan sampah 3R. Reduce menurut persepsi saya adalah meminimasi sampah yang kita hasilkan. Sedangkan menurut persepsi teman2, Reduce adalah meminimasi sampah yang masuk ke TPS.

Jadi, perlu ditekankan di sini bahwa inisiatif bank sampah itu hanya sebagian alternatif solusi dari masalah sampah. Karena kalau dilihat dari proses 3R (Reduce-Reuse-Recycle), bank sampah ini masuk di kategori Reuse/Recycle, sementara nyawa 3R itu ada di Reduce agar sebisa mungkin tidak me-recycle, karena sampahnya sudah minimal.

Selain itu, kacamata orang ketika memandang issue sampah & lingkungan, hanya sebatas 'sampah bisa hancur atau tidak', sama seperti kantong kresek yang orang justru berpikir mencari cara supaya kantong kresek itu bisa hancur.
Orang lupa kalau semua barang itu butuh sumber daya alam untuk membuatnya. Semakin banyak barang yang diproduksi, semakin cepat kita tidak bisa 'punya kertas' lagi, 'punya plastik' lagi, 'punya kayu' lagi, dst.
Syukurlah setelah mendapat penjelasan seperti itu, pada akhirnya kami menemukan spirit yang sama, bahwa yang lebih penting dilakukan untuk penyelamatan lingkungan, khususnya mengatasi persoalan sampah adalah edukasi agar setiap orang berusaha mengurangi sampah yang dihasilkan, kalau bisa sampai ke titik nol dan memilahnya. Bukan melihat sampah dari sisi ekonominya.

Bank sampah bisa saja tetap ada selama produsen sabun, minyak, produk-produk instant dsb masih menggunakan kemasan plastik untuk produknya. So far, belum kebayang sih gimana solusinya.

Mungkin tidak perlu memperbanyak bank sampahnya sampai harus ada di tiap RW, tapi pemerintah kota bisa mensupport bank sampah yang sudah ada supaya bisa lebih luas jangkauannya, misal dengan memberi bantuan kendaraan untuk mengambil sampah dari wilayah2 di sekitarnya.

Atau barangkali ada ide2 kreatif dan 'gila' yang bisa menjadi solusi di tingkat kota. Bikin pabrik 'batako'  yang dibuat dari sampah anorganik misalnya ? Jadi ngga perlu ada bank sampah. Well, siapa tau ? :D

Ada usulkah ? Mari berdiskusi....
Tapi untuk sekarang ini penting jadikan 'zero waste' sebagai gaya hidup ! ;)

Dan, simak terus yuk catatan saya selanjutnya tentang sharing pemilahan sampah di RW24 Gridea...

09 June 2012

RW hijau, sebuah mimpi

Saya jadi ibu pejabat sekarang...^^
Jabatan saya di organisasi PKK RW24 adalah ketua bidang kelestarian lingkungan hidup.

Meskipun tidak punya latar belakang ilmu lingkungan sama sekali, amanah ini saya terima sebagai tantangan untuk mewujudkan mimpi menjadikan lingkungan saya sebuah perumahan yang bersih, sehat dan hijau.

Perumahan 'hijau' dalam mimpi saya adalah perumahan yang bersih dan teduh, dimana setiap rumahtangganya...
  • memisahkan sampah organik dan anorganiknya, mengelola sampah organiknya di rumahnya dengan komposter/ lubang biopori, dan menyumbangkan sampah anorganiknya ke lapak atau mendaurulangnya
  • memiliki beberapa pot tanaman hias/ tanaman obat keluarga, atau menanam pohon di halaman rumahnya.
Dan ini adalah catatan perjalanan saya untuk mewujudkan mimpi itu....

TPS RW24 GriDeA
Melihat gambar di atas, masalah sampah menjadi masalah lingkungan yang harus segera diatasi. Menurut data dari Dinas Kebersihan kota Depok, timbulan sampah kota rata2 di tahun 2012 mencapai hampir 1400 ton atau 4250 m3 per hari di mana rumah tangga menjadi penyumbang sampah terbesar! Dan dari sekian banyak sampah, hanya 30% saja yang dapat diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir di Kelurahan Cipayung, sehingga 70% sampah berserakan dimana-mana dan terpaksa warga membakar dan membuang sampah ke kali atau sungai.
Sebenarnya persoalan sampah bukan hanya masalah kebersihan, tapi sangat terkait dengan persoalan kerusakan alam dan kesehatan yang lebih mengancam keberlanjutan hidup umat manusia.
Banyak orang yang mungkin belum menyadari bahwa dalam sampah-sampah modern seperti plastik, logam dan buangan bahan kimia terkandung racun-racun pencemar lingkungan, tanah dan air.
Jadi, sudah saatnya kita peduli dan melakukan sesuatu untuk menyelamatkan bumi kita!
Berawal di tahun 2007
Waktu itu sebagai salahsatu pengurus arisan RT, saya mencari-cari cara untuk mulai mengelola sampah. Kebetulan sekali saya mendapat info bahwa kakak sepupu saya mengadakan pelatihan pengolahan sampah skala rumah tangga di rumahnya di Kebun Karinda, Lebak Bulus, Jakarta.

Jadilah waktu itu, saya mencoba mengajak ibu2 peserta arisan RT belajar mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos menggunakan keranjang takakura. Dari sekian banyak warga anggota arisan, ternyata hanya 5 ibu yang berminat ikut pelatihan ini...wah, sepertinya saya harus belajar lagi bagaimana menjadi provokator yang baik...hehe.. ( baca catatan : Pelatihan mengolah sampah rumah tangga )

Pulang dari sana, kami langsung mempraktekkan ilmu mengompos dengan keranjang takakura itu. Sayangnya, setelah beberapa waktu berjalan, ada beberapa kendala yg membuat kami berhenti mengompos, salah satunya adalah konsistensi..!

Para ibu dan asistennya mungkin tidak cukup punya waktu untuk memotong kecil2 sampah organik rumahtangga yang sebagian besar berupa sampah dapur sebelum dimasukkan keranjang takakura. Selain itu, karena semua masih pemula, sampahnya pun seringkali gagal menjadi kompos.

Tahun 2008
Ilmu dan wawasan baru kami peroleh dari IPB Bogor yaitu membuat Lubang Resapan Biopori.

Lubang Biopori di rumahku
Sempat disosialisasikan di wilayah RT kami ( baca : Lubang Biopori di RT ku ) sayangnya lagi2 ada kendala yang membuat LRB menghilang dari lingkungan kami, yaitu hasil komposnya yang berupa tanah yang lengket tidak layak digunakan untuk memupuk tanaman. Mungkin ini tergantung dari jenis tanahnya atau sampah organik yang masuk ke dalam lubang biopori ya ? Kami belum memperoleh jawaban yang pasti.

Tahun 2011
Saya sudah tidak menjadi pengurus arisan waktu pengurusnya waktu itu mencoba menggulirkan lagi program pemilahan sampah dengan cara mengajak ibu-ibu peserta arisan memilah sampah anorganik dan organik dengan cara paling sederhana yaitu dengan menjual kantong kresek yang bertuliskan jenis2 sampah. Tapi tanpa perencanaan dan sistem yang jelas tentu saja program ini tidak bisa berjalan.

Evaluasinya menurut saya adalah :
Perlu dibuat peraturan dan sistem yang jelas untuk pengelolaan sampah rumah tangga, dan harus dilakukan pendampingan terus menerus kepada warga. Keranjang takakura dan lubang resapan biopori juga sebenarnya layak untuk dicoba lagi untuk pengolahan sampah organik rumahtangga.
Tahun 2012
Ketika suami saya mendapat amanah menjadi ketua RT, saya mulai berfikir lagi untuk membuat sistem pengelolaan sampah rumahtangga di RT kami. Bersama ibu2 pengurus, saya mengevaluasi dan mencoba menyusun sistem.

Tapi belum sempat berhasil, tim pengabdian masyarakat UI yang bermitra dengan bank sampah Poklili Depok dengan programnya yang berjudul "Membangun Model Kewirausahaan Komunitas Bank Sampah melalui Keterlibatan Masyarakat, Sekolah dan UPS Menuju Depok Meraih Piala Adipura" memilih RW kami untuk menjadi pilot project nya.

Hmmm...menarik..seperti apakah bank sampah ini ?
simak catatan saya selanjutnya...^^
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...