09 June 2012

RW hijau, sebuah mimpi

Saya jadi ibu pejabat sekarang...^^
Jabatan saya di organisasi PKK RW24 adalah ketua bidang kelestarian lingkungan hidup.

Meskipun tidak punya latar belakang ilmu lingkungan sama sekali, amanah ini saya terima sebagai tantangan untuk mewujudkan mimpi menjadikan lingkungan saya sebuah perumahan yang bersih, sehat dan hijau.

Perumahan 'hijau' dalam mimpi saya adalah perumahan yang bersih dan teduh, dimana setiap rumahtangganya...
  • memisahkan sampah organik dan anorganiknya, mengelola sampah organiknya di rumahnya dengan komposter/ lubang biopori, dan menyumbangkan sampah anorganiknya ke lapak atau mendaurulangnya
  • memiliki beberapa pot tanaman hias/ tanaman obat keluarga, atau menanam pohon di halaman rumahnya.
Dan ini adalah catatan perjalanan saya untuk mewujudkan mimpi itu....

TPS RW24 GriDeA
Melihat gambar di atas, masalah sampah menjadi masalah lingkungan yang harus segera diatasi. Menurut data dari Dinas Kebersihan kota Depok, timbulan sampah kota rata2 di tahun 2012 mencapai hampir 1400 ton atau 4250 m3 per hari di mana rumah tangga menjadi penyumbang sampah terbesar! Dan dari sekian banyak sampah, hanya 30% saja yang dapat diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir di Kelurahan Cipayung, sehingga 70% sampah berserakan dimana-mana dan terpaksa warga membakar dan membuang sampah ke kali atau sungai.
Sebenarnya persoalan sampah bukan hanya masalah kebersihan, tapi sangat terkait dengan persoalan kerusakan alam dan kesehatan yang lebih mengancam keberlanjutan hidup umat manusia.
Banyak orang yang mungkin belum menyadari bahwa dalam sampah-sampah modern seperti plastik, logam dan buangan bahan kimia terkandung racun-racun pencemar lingkungan, tanah dan air.
Jadi, sudah saatnya kita peduli dan melakukan sesuatu untuk menyelamatkan bumi kita!
Berawal di tahun 2007
Waktu itu sebagai salahsatu pengurus arisan RT, saya mencari-cari cara untuk mulai mengelola sampah. Kebetulan sekali saya mendapat info bahwa kakak sepupu saya mengadakan pelatihan pengolahan sampah skala rumah tangga di rumahnya di Kebun Karinda, Lebak Bulus, Jakarta.

Jadilah waktu itu, saya mencoba mengajak ibu2 peserta arisan RT belajar mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos menggunakan keranjang takakura. Dari sekian banyak warga anggota arisan, ternyata hanya 5 ibu yang berminat ikut pelatihan ini...wah, sepertinya saya harus belajar lagi bagaimana menjadi provokator yang baik...hehe.. ( baca catatan : Pelatihan mengolah sampah rumah tangga )

Pulang dari sana, kami langsung mempraktekkan ilmu mengompos dengan keranjang takakura itu. Sayangnya, setelah beberapa waktu berjalan, ada beberapa kendala yg membuat kami berhenti mengompos, salah satunya adalah konsistensi..!

Para ibu dan asistennya mungkin tidak cukup punya waktu untuk memotong kecil2 sampah organik rumahtangga yang sebagian besar berupa sampah dapur sebelum dimasukkan keranjang takakura. Selain itu, karena semua masih pemula, sampahnya pun seringkali gagal menjadi kompos.

Tahun 2008
Ilmu dan wawasan baru kami peroleh dari IPB Bogor yaitu membuat Lubang Resapan Biopori.

Lubang Biopori di rumahku
Sempat disosialisasikan di wilayah RT kami ( baca : Lubang Biopori di RT ku ) sayangnya lagi2 ada kendala yang membuat LRB menghilang dari lingkungan kami, yaitu hasil komposnya yang berupa tanah yang lengket tidak layak digunakan untuk memupuk tanaman. Mungkin ini tergantung dari jenis tanahnya atau sampah organik yang masuk ke dalam lubang biopori ya ? Kami belum memperoleh jawaban yang pasti.

Tahun 2011
Saya sudah tidak menjadi pengurus arisan waktu pengurusnya waktu itu mencoba menggulirkan lagi program pemilahan sampah dengan cara mengajak ibu-ibu peserta arisan memilah sampah anorganik dan organik dengan cara paling sederhana yaitu dengan menjual kantong kresek yang bertuliskan jenis2 sampah. Tapi tanpa perencanaan dan sistem yang jelas tentu saja program ini tidak bisa berjalan.

Evaluasinya menurut saya adalah :
Perlu dibuat peraturan dan sistem yang jelas untuk pengelolaan sampah rumah tangga, dan harus dilakukan pendampingan terus menerus kepada warga. Keranjang takakura dan lubang resapan biopori juga sebenarnya layak untuk dicoba lagi untuk pengolahan sampah organik rumahtangga.
Tahun 2012
Ketika suami saya mendapat amanah menjadi ketua RT, saya mulai berfikir lagi untuk membuat sistem pengelolaan sampah rumahtangga di RT kami. Bersama ibu2 pengurus, saya mengevaluasi dan mencoba menyusun sistem.

Tapi belum sempat berhasil, tim pengabdian masyarakat UI yang bermitra dengan bank sampah Poklili Depok dengan programnya yang berjudul "Membangun Model Kewirausahaan Komunitas Bank Sampah melalui Keterlibatan Masyarakat, Sekolah dan UPS Menuju Depok Meraih Piala Adipura" memilih RW kami untuk menjadi pilot project nya.

Hmmm...menarik..seperti apakah bank sampah ini ?
simak catatan saya selanjutnya...^^

3 comments:

  1. Memang sulit untuk konsisten. Sebagus apapun program, kalau gak konsisten tentu hasilnya gak memuaskan. Selamat buat bu RT sudah mengajak warga.

    ReplyDelete
  2. Terimakasih mas, mohon doanya spy kali ini bisa berhasil ya...

    ReplyDelete
  3. Permisi sy berkomentar skaligus menginformasikan cara mengatasi persoalan sampah dengan cara yg sangat mudah dan mesti berhasil,caranya(buka)teknologitpa.blogspot.com

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...