03 March 2008

Persepsi pintar


Remaja cowok
ini adalah salah satu murid pianoku yang berbakat.
Belajar piano sejak kelas 4 SD, sekarang sudah duduk di kelas 1 SMA.

Selain berbakat main piano, dia juga sukses di akademis.
Sempat jadi siswa teladan sepropinsi Jawa Barat waktu SD.
Sekarang sekolah di SMA favorit di kota ini.

Lulus ujian piano selalu dengan nilai sangat memuaskan, bahkan ketika dia juga harus belajar untuk ujian nasional SMP tahun lalu.

Selalu mendapat perhatian ketika tampil di konser siswa tahunan sekolah musikku, dan mendapat applause meriah sewaktu tampil membawakan Toccata in D minor gubahan J.S. Bach.

Benar-benar seorang remaja yang potensial…

Bulan depan, dia akan ikut ujian kenaikan tingkat di sekolah musik ku. Tapi sampai sekarang, dia belum menguasai satupun materi ujian yang diberikan !

Kenapa ?
“Ngga sempet latihan. Banyak PR dan tugas di sekolah”

Dan mamanya menelpon aku kemarin, dan bercerita panjang tentang putranya.
“Dia masuk ke kelas internasional, mbak. Jadi pelajaran science dikasih dobel, dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, makanya dia pulang sekolah lebih sore daripada temen-temennya di kelas regular. Pulang sekolah, masih ada aja PR dan tugas yg harus dikerjain. Aduh, gimana ya, mbak ?”

“Kalau hari sabtu minggu gimana, mbak ? bisa latihan ?”

“Nah, itu dia. Hari Sabtu Minggu dia juga ada les sekarang. Les semua pelajaran science.”

Haaa ? *gubrak*

“Iya, mbak. Waktu SMP dia ngerasa dia itu bisa, orang lain ngga bisa. Sekarang, dia ngerasa bisa, tapi lebih banyak temennya yang lebih bisa ! Jadi waktu dia diajak temen2nya untuk ambil les tambahan, dia ikutan aja. Jadinya ya gitu deh, mbak, dia jadi ngga sempet latihan piano. Tapi disuruh berhenti les piano juga dia ngga mau. Gimana dong ?“

Saya hanya bisa memberi solusi seperti ini..
“Mungkin harus bikin prioritas apa yg harus dilakukan, mbak. Untuk pianonya, krn dia mau menghadapi ujian sebentar lagi, prioritaskan dia untuk bisa latihan rutin setiap hari. Nanti kalau sudah selesai ujian, kalau ngga sempat latihan ya saya bisa memaklumi.”

***

Begitulah memang kebanyakan remaja sekarang…
Waktunya habis untuk mengejar prestasi akademis.

Menurut pengamatan saya, seringkali memang lingkungan yang membentuk orangtua dan remaja berpikir bahwa prestasi akademis adalah yang terpenting,  dan ini menjadi target.
Persepsi pintar adalah menjadi pintar di bidang akademis
Kalau anak pintar di sekolah, tentu nantinya banyak kemudahan yang mereka dapat.
Dapat beasiswa, cari kerjaan gampang...dst...

Salahkan pola pikir seperti itu ?

Saya tidak bisa mengatakan salah atau benar, karena sah-sah saja punya pola pikir yang berbeda. Tapi jujur, saya pribadi tidak ingin anak-anak saya menghabiskan waktu dengan belajar pelajaran sekolah saja.

Kalau melihat prestasi akademis mereka - anak-anak saya - , alhamdulillah saya bersyukur…
Nilai-nilai di sekolahnya selalu bagus, sempat mendapat medali di Olimpiade Science tingkat Nasional, juara lomba ini itu, dan mendapat beasiswa karena prestasinya..

Tapi kemudian, menjadi terlalu berlebihan dalam pandangan saya, ketika mereka harus dikarantina hanya untuk belajar fisika dan biologi saja, dan masih juga harus mengerjakan science project untuk suatu ajang olimpiade di Amerika..

Menurut saya, sekolah seharusnya adalah tempat untuk mencari ilmu. Menjadi pandai dan berprestasi adalah ‘efek’ dari penguasaan ilmu itu.

Sama juga dengan belajar piano atau belajar yang lain..
Ujian adalah bagian dari pendidikan, sebagai alat ukur apakah murid sudah menguasai ilmunya atau belum..

Tapi kalau yang menjadi ‘target’ adalah nilai rapot, sertifikat, medali, dan piala, sampai rela menghabiskan waktu dan uang untuk membeli soal ujian, drilling mengerjakan ratusan soal, bimbel dan les mata pelajaran…...

Kapan anak-anak mempunyai waktu mengembangkan diri untuk bergaul, bersosialisasi, belajar menguasai suatu ketrampilan, dan mendalami hobinya ?

gambar diambil dari sini

22 comments:

  1. saya ingin juga anak saya belajar musik! tapi takut terlalu sibuk, kasian juga

    ReplyDelete
  2. kirain yg diceritain disini tadi budi mba ;) flash back lg, ternyata salah :)

    mhmm ... intinya emang segala sesuatu harus seimbang gitu kan mba ? ya akademis, sosialisasi dll ?

    ;)

    -lilik-

    ReplyDelete
  3. he eh, liat dunia pendidikan (sekolah) sekarang bikin aku stress mba..
    pdhal aku sendiri anaknya baru usia 2 thn *udah stress duluan*. antara ingin mempersiapkan anak menghadapi zamannya, antara ingin dia bs hidup seimbang...
    duh, pusink....

    ~Shinta

    ReplyDelete
  4. tapi kalo melihat beberpa temen saya, memang orang yang jago musik biasanya dia juga pintar orangnya. Cuma kemudian saat dewasa main musik tidak jadi aktivitas utamanya

    triadi

    ReplyDelete
  5. Rizki : saya ingin juga anak saya belajar musik! tapi takut terlalu sibuk, kasian juga
    Uda, yg saya suka 'sayang' itu kalau anak sudah pintar kok ya sampai musti les matapelajaran lagi, sampai ngga sempat latihan piano padahal anaknya berbakat...;)

    ReplyDelete
  6. Lilik : intinya emang segala sesuatu harus seimbang gitu kan mba ? ya akademis, sosialisasi dll ?

    intinya, jangan terlalu 'mendewakan' sertifikat, piala, nilai raport...:)

    'pintar' itu ngga sebatas pintar di akademis..

    ReplyDelete
  7. Shinta : pdhal aku sendiri anaknya baru usia 2 thn *udah stress duluan*. antara ingin mempersiapkan anak menghadapi zamannya, antara ingin dia bs hidup seimbang...

    wah, jangan jadi stress, say..;)
    yang penting, jangan membebani anak dengan harus berprestasi di akademis, apalagi kalau dia sudah menunjukkan bakat atau minat di bidang tertentu..good luck ya..

    ReplyDelete
  8. Triadi : tapi kalo melihat beberpa temen saya, memang orang yang jago musik biasanya dia juga pintar orangnya. Cuma kemudian saat dewasa main musik tidak jadi aktivitas utamanya

    iya ya, mas Tri ? ;) *geermodeon*
    cuma, murid saya itu udah pintar, tapi kok masih les matapelajaran lagi ya ? sampai ngga sempat latihan..;)

    ReplyDelete
  9. membekali diri dengan segudang kemampuan sedini mungkin itu bagus..
    ntr ngk susah cari kerja malahan pekerjaan yg cari kita..:D

    ReplyDelete
  10. membekali diri dengan segudang kemampuan sedini mungkin itu bagus..
    ntr ngk susah cari kerja malahan pekerjaan yg cari kita..:D

    ReplyDelete
  11. wah, setuju mbak. prestasi akademis memang bukan jaminan seseorang akan sukses, kok. lebih baik biarkan anak-anak mendapatkan kesempatan secara adil dan seimbang. jangan terlalu dipaksakan berprestasi di bidang akademis saja.

    sudah banyak contoh, ya mbak? misalnya ajah saya, di sekolah prestasi akademik biasa ajah, tapi dalam kehidupan.... biasa juga (lho...?) tapi yang penting, saya bahagia. hehehe...

    ReplyDelete
  12. memang anak perlu diasah bakat dan kemampuannya sedini mungkin ya mbak..

    ReplyDelete
  13. IPK saya paling rendah seangkatan, tapi alhamdulillah, saya nggak kurang sukses dibanding yang lain...

    *membela diri*

    ReplyDelete
  14. Untung jaman dulu gak ada piano (ngeles)...!!!!

    ReplyDelete
  15. yang penting imbang antara pendidikan dan waktu bermain yang konon katanya tempat menemukan kretifitasnya sendiri..

    *sok tau.hee.....*

    ReplyDelete
  16. sbg ortu cm bisa mengarahkan n memfasilitasi tp jgn ampe mengabaikan keiginan si anak itu sdri.
    btw blognya dah aku link mbak thanks.

    ReplyDelete
  17. Aq juga berbakat lho... tapi main game!!!!kaboooor

    ReplyDelete
  18. waduh... kasihan ya anak2 jaman sekarang... untung anak2ku walaupun hidup di jaman sekarang tp tidak aku kasih beban macem2. mo belajar terserah, mo nge-game terserah, mo main terserah... yang penting harus jujur dan bertanggungjawab... mo liat anak-ku??? ada di http://andymse.blogspot.com/2008/01/hadiah-yang-dahsyat.html

    ReplyDelete
  19. anakku yang gede suka gitar, tapi ga mau les musik. anakku yang kecil pengin seperti vanessa mae, jadi dia les biola. untuk mendukung pelajaran di sekolah mereka hanya mau les bhs inggris saja... kalau terlalu banyak kegiatan mereka protes; "lha trus dolan-nya kapan???"... hehehe... kl mau dolan ya terserah aja!...

    ReplyDelete
  20. contoh diriku ini mbak, dulu aku berhasil masuk sma favorit dijakarta, tiap hari baru sampai rumah jam 5 sore, dua minggu sekali ada bimbel jam 7 malam, selesai jam 9-10 malam.
    trus kuliah di negara yg berteknologi plg canggih... sekarang..huehehe... hny jd ibu rumah tangga ... cuci piring, masak, ngepel, nyuci...
    nasiiib aku aja kali yaaah....heheh sutres dah

    ReplyDelete
  21. Skrg Naufal 7th istirahat dulu les nya, mo pendekatan lg sm Naufal spy jg patah semangat...Any suggestion?

    ReplyDelete
  22. hmmm kayaknya saya mesti berguru secara privat dengan mbak Lita niy...pengen dpt tips en tricknya cara mendidik & membesarkan anak-anak. Kapan dong mbak bisa chatting dengan mbak lita..

    Salut dengan putra-putranya mbak lita euy.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...